Swift

JANTUNG IBU

Oleh: Erva Aryanti
Berlin Heart Institute, 8 Februari 2012, pukul 13:00.
Aku terbaring.
Alunan nada Al-Qur’an melantun begitu indah melalui headset kecil yang terpasang di telingaku. Begitu menenangkan. Aku menikmatinya.
Aku ingat, dua tahun lalu aku berbaring di sini dengan suasana yang sama, dengan rasa yang sama, dengan sakit yang sama pula. Akulah sang penderita Atheroscherosis koroner, atau penyakit pengerasan dan penyempitan pembuluh arteri yang menyuplai darah kaya oksigen. Dahulu, dokter hanya menyusupkan sebuah kateter tipis melalui arteri di pangkal paha dengan sebuah sayatan pula di pangkal pahaku. Dari sana, kateter tipis itu disusupkan ke aorta, terus menuju salah satu arteri yang mengelilingi jantungku.
Dengan hati-hati dokter mengarahkan ujung kateter itu menuju satu titik dimana terdapat tumpukan plak yang menyebabkan penyempitan pembuluh arteri hingga puluhan persen. Aku dapat menyaksikan dengan seksama di layar monitor gerakan cepat dan terlatih dari kateter yang menggelembungkan balon yang terdapat pada ujungnya—kepala kateter—dan memperluas dinding arteri, mengempiskannya, kemudian menyelipkan jaring stent untuk memperlebar pembuluh sehingga darah dapat mengalir dengan leluasa. Kemacetan arteriku kembali lancar, mengalir deras layaknya sungai yang meluap.
Dua jam yang menegangkan. Bagaimana jika kateter itu tersangkut di salah satu saluran sebelum sampai ke arteri jantung? Bagaimana pula jika balon yang terdapat di ujung kateter tak dapat menggelembung, hingga jaring stent tak dapat masuk dan saluran darahku menjadi semakin macet? Ya Allah, aku tak dapat membayangkannya.
Semakin lama alunan bacaan Al-Quran ini semakin membuatku tenang, jantungku yang ‘rusak’ berdegup pelan, belum sempurna, namun sudah cukup membuatku bertahan hingga detik ini.
Pukul 17:00
Terbesit ketakutan dalam diriku. Ketakutan untuk menjalani proses operasi tranplantasi jantung. Ketakutan akan kematian. Benar, hidup adalah pilihan dan hari ini aku dihadapi dengan pilihan hidup atau mati?
 “Tenanglah, sayang…,” suamiku, akhirnya dia mengeluarkan suara mungkin, ia melihat kecemasan di wajahku. Sembari mengelus kepalaku dia berkata bahwa aku harus sembuh. Kata-kata sayangnya mengalirkan semangat hebat dalam diriku. Hangat tangannya mengenggam tanganku, membuatku enggan melepasnya.
Kalimat tasbih, tahmid dan tahlil semakin gencar kuucapkan.
Aku tak tahu apa yang harus aku minta pada Allah saat ini. Aku dilanda kecemasan dan ketakutan yang hebat.
Ya Allah, kuserahkan padaMu, apapun yang terjadi.
 Pintu kamarku terbuka, terlihat dua orang berseragam putih muncul dari baliknya. Aku tahu, mereka adalah petugas yang siap mengantarku ke ruang operasi. Mata suamiku mulai berkaca. Mulutnya terlihat seperti sedang mengucap sesuatu tak bisa kudengar dengan jelas, lirih, lebih lirih dari helaan nafasnya. Namun, aku harap itu adalah doa untuk kesembuhanku. Semakin erat tangannya mengenggam tanganku, seakan mengalirkan semangat yang lebih besar lagi. Ya, sayang. Aku akan sembuh, demi kamu.
Brankar didorong begitu cepat, tak memakan waktu lama lift yang mengantarku telah berhenti di lantai dua. Lalu brankar didorong semakin cepat lagi. Pintu kamar operasi semakin lama semakin terlihat jelas. Kini, aku telah sampai di depannya.
“Oke, silahkan bapak tunggu di luar,” kata orang berseragam putih itu tenang.
“Eee.. ee.. jangan lepas …,” aku memohon pada suamiku.
“Tenang, kamu pasti  sembuh. Aku tetap ada di sini.” Ucapannya diakhiri dengan kecupan mesra di keningku.
Pukul 17:45
“Operasi akan dimulai, anda sudah siap?”
Aku tak bergeming. Mulutku terkunci begitu rapat. Rasa takut agaknya telah mengkakukanku.
Dokter membiusku. Sejenak kurasakan cairan dari suntikan itu mengalir di nadiku bergerak menuju lengan atas, leher, hingga berhenti tepat di kepalaku. Aku telah kehilangan kesadaran.
Sebetulnya aku tidak benar-benar tak sadarkan diri. Melainkan aku merasa sedang dibawa ke suatu tempat yang indah, sejuk, menenangkan. Di sebuah tempat dengan padang rumput hijau yang terhampar luas sejauh mata memandang nun indah, dingin rumput berembun yang menyentuh kakiku membawakan relaksasi yang nyaman. Di manakah aku sekarang? Rasanya ini tak asing buatku, namun kenapa aku bisa lupa, aku tak mengingatnya sama sekali.
Perasaan aneh mulai merasukiku saat tak kutemukan seseorang yang tampak di sini, aku benar-benar sendiri, bahkan seekor semut pun tak berhasil kutemukan. Aku berjalan dengan langkah gontai, berjalan ke depan tak tentu arah. Ke mana pun kaki ini melangkah kurasa inilah tujuanku.
Aku berjalan dan terus berjalan. Semakin lama aku sudah semakin lelah sejenak aku membungkukkan badanku dengan menumpukan tangan pada lutut lalu melanjutkan perjalananku lagi. Angin yang tadinya bergerak sepoi-sepoi semakin terasa kencang, dengan dingin yang mulai merasuki tulang rusuk teramat menyiksa. Suara gesekan di antara dedaunan hijau terdengar laksana suara pisau yang digesekkan kepada pisau lainnya. Menegangkan. Menyeramkan. Dan akhirnya langkahku terhenti pada suatu titik.
Di tepian kolam, aku terduduk lemas dengan lutut yang menyentuh tanah. Ya, aku sudah tak kuat lagi untuk melanjutkan perjalanan ini.
Aku begitu lelah, sedikit aku ambil air kolam dengan tanganku lalu kubasuh wajahku dengan cepat dan sedikit kuteguk airnya untuk menyegarkan tenggorokanku. Alhamdulillah.
Dari kejauhan aku mendengar tapakan kaki yang begitu cepat bergerak mendekat, perasaan takut kembali menyerang. Aku berdiri mataku melirik sekeliling dengan tatapan awas. Siapakah mereka yang datang? Apakah tujuan mereka ke sini?
Belum sempat aku menjawab pertanyaanku.
“Halo, parempuan cantik, sedang apa kau disini?” dua orang dengan jaket kulit hitam, berbadan kekar dan berwajah sangar mendekatiku.
“Ee … anu .. aku tersesat disini,”
“Ha-ha-ha …” mereka tertawa lantang.
“Kamu tahu, kenapa kamu dapat tersesat disini, wahai perempuan cantik?” kata seorang lainnya dengan kedipan mata di mata kanannya.
Aku menggelengkan kepala.
“Karena kamu dikirim untuk memuaskan kami.” Lantas mereka tertawa lagi kali ini lebih keras dan lebih mengerikan. Aku bergerak mundur selangkah demi selangkah. Mereka bergerak maju selangkah demi selangkah pula. Dengan membelakangi mereka aku berusaha berlari. Namun, kelelahanku yang belum sirna menjatuhkanku. Dengan gampang mereka berhasil menyergapku.
Aku meronta-ronta “Lepaskan! Lepaskan aku!”
“Lepaskan? Enak saja!”
“Ha-ha-ha … jarang-jarang ada bidadari cantik yang mau ke sini,” saat ini lelaki di depanku itu mulai meraba kening, pipi hingga leherku. Plak! Aku menangkisnya dengan kasar.
“Hah? Sok jadi jagoan juga perempuan ini. Hajar!”
Mimpiku berganti. Kini tubuhku terasa melayang, terombang-ambing di awing-awang lantas jatuh di sebuah tempat sepi, lembab namun terasa berdebu, pengap, gelap. Sesak.
Aku berusaha melihat apa saja di sekelilingku. Namun, daya lihatku tak menangkap setitik bayangan apalagi cahaya di ruang ini. Kuputar badanku sejauh 360 derajat, dengan perlahan berusaha mencari titik cahaya, terus dan terus. Kali ini benar-benar gagal. Lagi-lagi aku lelah dan terduduk di tempat. Dengan meringkuk aku terduduk sambil memeluk lututku.
Lalu, kembali aku bertanya, di manakah aku sekarang? Tempat apa ini?
Sekali lagi ini adalah pertanyaan yang tak sempat aku jawab.
"Para wanita yang berpakaian tetapi (pada hakikatnya) telanjang, lenggak-lengkok, kepala mereka seperti punuk unta…”
“Hei, siapa kamu?” aku bertanya terheran-heran. Baru saja aku mendengar suara lelaki dewasa mengucapkan sabda Rasulullah SAW. Terdengar begitu asing. “Hei, jawab! Siapa kamu?”
“… mereka tidak akan masuk surga dan tiada mencium semerbak harumnya." —HR. Muslim—suara misterius itu melanjutkan perkataannya.
Bsttt! Segaris kilatan cahaya lalu muncul di depanku. Terlihatlah layar dengan slide yang menayangkan sebuah kejadian yang anat mengerikan.
Kobaran api terlihat begitu panas dan menyala-nyala bak seruang gua dengan puluhan naga murka dan secara serentak menyemburkan api seolah ingin menjilati kulit-kulit mulus tubuh manusia. Sebuah parit besar memanjang dengan kobaran api yang menari-nari. Bush! Api semakin membesar setelah puluhan manusia tercebur ke dalamnya.
Sejauh mataku memandang, aku hanya menangkap api yang menyala-nyala, darah yang mengalir berceceran, dan lava panas yang bergerak seakan baru saja tersembur dari gunung api yang meledak.
Di satu sisi aku melihat seorang perempuan telanjang diseret-seret di atas lava panas yang menyala-nyala itu. Lalu ia digantungkan pada sebuah pohon besar dengan rambutnya sendiri di bawahnya kobaran api yang nyaris padam menunggu kedatangannya. Perempuan itu berteriak keras sambil meronta-ronta menolak untuk disiksa, namun semakin ia meronta dan berteriak semakin keras pula ikatan rambut yang menggantung tubuhnya di pohon besar itu. Lalu, bersama dengan kulit kepalanya rambut itu terputus. Perempuan itu meringis terbakar dengan otak mendidih. Kejadian itu berlangsung berulang-ulang.
Tubuhku bergidik ngeri. Dapat aku rasakan begitu pedihnya siksa itu. Tempat apa itu? Lalu slide itu segera lenyap dari hadapku
“Adapun wanita yang digantung dengan rambutnya,sementara otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya dari pandangan pria bukan muhrim. Sabda Rasulullah SAW” suara misterius itu kembali terdengar.
Lagi-lagi, aku tertarik ke atas, diangkat tinggi-tingi, lebih tinggi, sangat tinggi. Dan, ya, aku dihempaskan begitu saja. Aku menyebut nama Allah, berharap ada keajaiban yang menyelamatkanku dari hempasan ini. Berharap aku dapat mendarat dengan selamat. Aku melesat jatuh begitu cepat lantas kini aku berada di tempat sebelumnya di padang rumput hijau nun luas. Sebelum aku berdiri begitu sempurna, mataku menangkap sosok Delia. Ibu tiriku yang selalu aku hardik dan aku hina. Aku selalu menuduhnya membunuh ibu, karena dia telah merebut papa dari ibu kandungkuku.  Kembali ada hal aneh yang aku lihat. Delia terlihat lebih cantik dari biasanya, walaupun seperti biasa dia selalu mengenakan pakaian muslimah syar’i dengan jilbab yang terulur menutup dadanya. Ia berjalan dengan tenang, tenang sekali. Seulas senyum tersungging di pipinya.
“Delia? Sedang apa kau disini?” aku bertanya-tanya.
“Apa yang kau lihat tadi akan terjadi padamu jika kamu tetap berprilaku seperti ini dan tidak menutup auratmu,”
“Maksudmu?”
“Kelak kau akan mengerti,” ia berkata lalu menyodorkan selembar kain putih, “pakailah ini untuk menutup kepalamu.”
Tring! Wajah Delia menghilang. Aku bingung.
***
10 Februari 2012, pukul 10:30
Sungguh, aku masih tak menyangka. Aku benar-benar masih hidup. Alhamdulillah, Allah masih begitu baik memberiku kesempatan tambahan untuk hidup dan untuk memperbaiki diriku di dunia ini. Setelah hampir dua hari kematian dengan mimpi yang menyeramkan dan berlapi-lapis, kini tak ada yang lain yang dapat aku ucapkan kecuali kalimat hamdalah tanda syukurku pada Allah. Aku begitu menyadari betapa berharganya nyawaku. Terlihat suamiku muncul dari balik pintu kamar rumah sakit ini. Kini, wajahnya begitu berseri, matanya sudah tidak lagi sembab seperti sebelum aku masuk ruang operasi.
Bibirnya mengecup keningku lembut, “Bagaimana keadaanmu, sayang?”
Aku tidak berkata-kata, hanya senyum yang kuulas di bibirku. Dia mengangguk tanda mengerti bahwa aku baik-baik saja.
“Oh iya, ada titipan surat, nih,” dia menyodorkan selembar amplop putih, sebentar kubolak-balikkan amplop itu.
“Dari siapa?”
“Buka saja.”
Aku membuka amplop itu dengan perlahan. Kubaca pula suratnya dengan tenang. Mataku terasa panas, aku tak sanggup menahan tangis. Tangisku tumpah dengan derasnya.
Dear, Nini.
Ibu titipkan kain putih ini untuk kamu pakai
guna menutupi rambut indahmu.
Peliharalah perhiasanmu, tampakkanlah pada muhrimmu.
 Ibu percaya kamu bisa melakukannya.
Ibu harap dengan kain ini kita dapat berkumpul di surga bersama,
Ibu susul papa dan mamamu duluan, ya.
Percayalah, tanpa kamu kami akan kesepian.
Sayangi dan rawatlah jantung barumu dengan baik,
ibu titip jantung ibu, yah.
Sampai bertemu di surga.

Love,
Delia
“Sayang?”
“Iya, ibu Delia udah pergi. Dia yang mendonorkan jantungnya untukmu, dia menyayangimu layaknya putri sendiri, ini kain putih titipan mama.”
“Tapi, aku belum minta maaf, begitu banyak dosa yang telah aku lakukan padanya. Begitu banyak cacian dan hinaan yang telah aku lemparkan padanya. Aku pernah menuduh dia membunuh mamaku,” aku mengenggam tangan suamiku, “kamu ingat, waktu Delia dan papa menikah aku begitu mengutuk pernikahan itu hingga membuat mereka malu semalu-malunya di hadapan tamu undangan. Aku selalu menghardik pakaiannya, yang sebetulnya itulah pakaian yang wajib dikenakan wanita muslim. Dan saat papa meninggal, aku hampir saja membunuhnya.”
“Ibu sudah memaafkanmu, jauh, jauh sebelum kamu meminta maaf,”
Aku terdiam, malu akan keadaan. Aku menyesal mengikuti ajaran syetan untuk mengumbar aurat, untuk menghardik orang yang sebetulnya teramat sangat mencintaiku, yang menganggapku sebagai anaknya sendiri, yang menginginkanku menjadi muslimah seutuhnya.
Sekelebat bayang-bayang masa lalu dengan kehidupan malam, kebiasaan berfoya-foya dan baju terbuka yang senang kukenakan melesat di kepalaku. Ampuni aku, Ya Allah. Aku bertaubat padaMu.
“Aku juga minta maaf padamu, sayang. Aku telah berdosa besar padamu,”
“Aku sudah memperkirakan akan ada hari seperti ini. Hari dimana kamu akan sadar dan menyatakan kembali pada jalan yang Allah ridhai. Karena aku yakin, noda hitam di hatimu tak lebih dari sebutir debu yang akan menghilang saat dikibas,” kedua ibu jarinya bergerak menghapus airmataku, “You’re my angel, dear. Love you.
Ya, aku berjanji, saat aku kembali ke tanah air, tak akan ada lagi istilah kehidupan malam dengan pakaian singkat dan terbuka yang melekat di diriku.
 “Demi Allah, kepada jantungku saat ini. Aku berjilbab …” kataku lirih, dalam hati.
               
***
NB: Diikutsertakan dalam Lomba Menulis Cerpen AKSI FOSI Universitas Bengkulu 2012 (Juara 2)

You Might Also Like

3 komentar