Swift

PROBLEM



Hola!
Aku pikir banyak dari kamu juga mempunyai masalah yang sama denganku.
Tahukah kamu bahwa sebenarnya masalah tersebut datang karena diri kita terlalu membandingkan hasil usaha kita dengan hasil usaha/karya orang lain. Pernah dengar pepatah, "The grass is always grenner on the other side" atau "Rumput tetangga akan selalu lebih hijau", kan?
Sulit memang untuk mengatasi hal ini. Ditambah globalisasi dan internet menyajikan semua 'kehijauan rumput tetangga'.


  • "What?! Bukannya kalo kita membandingkan hasil usaha kita dengan usaha orang lain jadinya baik, kan kita jadi bisa lihat kekurangan karya kita?"
Pertanyaanku selanjutnya,

  • "Yakin?"

Aku tidak, karena aku sendiri sudah merasakannya.


Kalau saja kamu mengikuti media sosialku, seluruh media sosial ku menjadi saksi bisu betapa depresinya aku saat itu (aku tidak salah tulis, aku benar-benar depresi!). Kurang lebih 4 tahun lalu, aku sangat bersemangat untuk menulis sebuah novel yang akan aku jadikan hadiah ulang tahun ke-17. Aku sudah mengumpulkan niat sekuat tenaga, menuliskan outline sejelas-sejelasnya, mengambarkan karakter serinci mungkin, dan aku sudah menulis puluhan halaman. Tapi apa yang terjadi? hingga saat ini naskah itu tidak berani aku publish. SEMUA INI KARENA TERLALU MEMBANDINGKAN TULISANMU DENGAN TULISAN ORANG LAIN!

Ketika aku melakukan riset untuk menyelesaikan tulisanku, aku membaca banyak sekali buku. Celakanya riset malah melemahkanku. Buku-buku yang aku baca membuatku iri dengan kepiawaian penulisnya sehingga aku merasa tulisanku tidak pantas untuk di-publish.

Kedua, terlalu peduli dengan aturan dan teori. Sejak kecil, kita selalu dituntut untuk taat aturan. Masuk sekolah jam 7 pagi, kalu upacara bendera harus memakai seragam lengkap, dan lain-lain. Dalam menulis, sejak dulu aku sangat terpaku dengan Ejaan yang Disempurnakan alias EYD sebuah materi pelajaran Bahasa Indonesia yang paling tidak disukai anak sekolahan. Aku membutuhkan waktu berhari-hari untuk mengedit tulisanku menjadi tulisan yang sempurna (di mataku sendiri). FYI: Ketika aku menulis cerpen untuk antologi The Journal of Dream, aku menghabiskan 3 hari untuk menulis dan 2 minggu untuk editing. Aku ingin tulisanku terlihat sempurna.

  • "Ah, kayaknya niat kamu yang kurang kuat, deh?"
Ya, aku tidak menyangkal. Bisa jadi memang niatku kurang kuat tapi bisa jadi niatku sudah kuat tapi perasaan iri dan ingin terlihat sempurna yang melemahkan niatku (bahkan menurunkan daya kreativitasku).

Jadi, aku akan tutup postingan ini dengan kutipan dari Surayah Pidi Baiq (Penulis novel Dilan 1, Dilan 2, dan Milea.

"Berkarya itu enggak usah peduli aturan! Liar saja!" 


Dan aku akan melakukannya.



You Might Also Like

0 komentar