Swift

PSIKOLOGI BUKAN LAGI TENTANG KEGELAPAN MANUSIA

via: https://id.pinterest.com/pin/254523816413270869/


*Ditulis untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Psikologi Positif,
Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana Yogyakarta: 2018*



“Sumpah deh, kelas ini adalah kelas yang paling seru!” Seorang mahasiswa nyeletuk.
“Asli! Paling rugi rasanya skip kelas psipos!” sambar mahasiswa lain.
Segerombolan mahasiswa yang sudah menuruni tangga lebih dahulu malah ikutan, “Auranya beda kalo masuk kelas psipos!”
“Yoi! Cerah ceria!”
Begitulah kira-kira percakapan yang terjadi setelah kami keluar kelas Psikologi Positif untuk terakhir kali. Satu semester sudah perjalanan kami mengikuti kelas ini. Sebuah materi baru yang awalnya asing bagi kami malah menjadi materi yang paling disenangi. Riuh kelas karena debat dan pertanyaan yang datang membombardir seisi kelas datang bukan lagi karena kami berebut poin tambahan nilai, tetapi karena kami memang ingin tahu lebih banyak tentang materi yang dibahas. Ah, jadi kangen.
Sebelum lebih jauh, sebenarnya apa itu Psikologi  Positif?

Psikologi Positif: Sejarah Singkat
Psikologi positif didirikan dan dikembangkan oleh Bapak Psikologi Positif, Martin E.P. Seligman pada 1998 saat dirinya menjabat sebagai presiden American Psychological Association (APA) bersama Mihaly Csikszentmihalyi, mereka berdua kemudian mengembangkan Psiklogi Positif lebih lanjut.
Sebenarnya, Psikologi positif muncul sebagai kritik terhadap ilmu psikologi yang sedang berkembang. Seligman menilai, sejak awal, psikologi pada kenyataannya hanya fokus pada studi tentang penyakit, kelemahan, kerusakan, dan lain-lain yang berhubungan dengan permasalahan negatif manusia atau penyakit mental. Ini terlihat dengan berkembangnya aliran aliran seperti psikoanalitik dan behavioristik. Padahal, sebelum perang dunia II, psikologi muncul dengan membawa tiga misi penting yakni; pengembangan potensi (bakat mulia dan kejeniusan), membuat hidup lebih bahagia dan sejahtera, dan menyembuhkan penyakit mental. Namun, setelah perang dunia II yang terjadi adalah banyak ilmuan yang terbawa arus sehingga melupakan 2 misi penting psikologi (Seligman dan Csikszentmihalyi, 2000).
Sebenarnya, pandangan mengenai psikologi positif bukanlah hal yang baru. Jauh sebelum pandangan ini hadir William James dan Maslow sudah membuat pandangan awal mengenai psikologi positif, sehingga kemudian dapat disebut sebagai cikal-bakal psikologi positif modern.
Tahun 1906, William James mempertanyakan perbedaan manusia dalam mengoptimalkan fungsi mereka sebagai manusia. Mengapa ada orang yang mampu menggunakan potensi yang mereka miliki secara maksimal dan ada yang tidak. Ia juga mengatakan bahwa untuk mempelajari fungsi optimal manusia maka haruslah mempertimbangkan pengalaman pribadi. Tahun 1945, Maslow dalam bukunya yang berjudul Motivation and Personality menyebutkan bahwa psikologi telah sukses dalam segi negatif daripada segi positif namun psikologi lebih banyak membahas mengenai penyakit mental, dan juga kelemahan-kelemahan manusia sehingga seolah-olah psikologi telah membatasi dirinya sendiri, menjadi hanya setengah dari haknya untuk menilai (R, Ratih, 2013).
Dan jauh sebelum dua tokoh psikologi di atas, John Locke, seorang tokoh filsafat menegaskan bahwa yang menentukan tindakan-tindakan manusia bukanlah asas-asas universal, melainkan sesuatu yang berasal dari pengalaman indrawi, yaitu rasa nikmat dan rasa sakit. Sesuatu yang menyenangkan kita sebut ‘baik’, sedangkan sesuatu yang menyakitkan kita sebut ‘jahat’. Sebaliknya, sesuatu yang secara moral baik tentu akan menghasilkan kenikmatan dan kebahagiaan, sedangkan yang secara moral jahat akan menghasilkan penderitaan (Hardiman, 2004; Bertens, 2007 dalam Tumanggor, 2016). John Locke juga menetapkan lima nilai yang patut dikejar dalam hidup ini. Pertama, kesehatan yang memungkinkan kita menikmati segala sesuatu dengan panca indera kita. Kedua, nama baik atau kehormatan ataupun kenikmatan yang dihasilkan oleh pengakuan sosial dari orang lain. Ketiga, pengetahuan yang memungkinkan manusia untuk mengubah-ubah objek kenikmatannya. Keempat, perbuatan baik berupa tindakan yang menguntungkan dan memberikan kepuasan. Kelima, harapan akan kebahagiaan abadi (Hardiman, 2004 dalam Tumanggor, 2016).

Bukan Tentang Kegelapan Manusia
Psikologi positif hadir dengan memberikan pandangan tentang manusia dari sisi yang berbeda. Psikologi positif menampilkan sifat-sifat baik manusia. Para tokoh psikologi positif sepakat bahwa senjata utama dalam terapi ada dalam diri manusia itu sendiri. Manusia mempunyai kekuatan namun seringkali kekuatan itu tertutupi oleh bayang-bayang yang Carl Jung sebut sebagai shadow.
Menurut Jung, Shadow adalah sisi gelap dari kepribadian manusia, sebuah tempat dimana hal-hal yang dianggap inferior, anggap jahat, dan tidak layak berkumpul. Sebuah bagian yang cenderung terdapat insting primitif dan negatif yang secara norma dan sosial tidak diapresiasi. Shadow itu membawa banyak hal negatif dan jahat seperti nafsu seksual, kemarahan, rasa iri, keserakahan, dan karena sifatnya yang seperti ini shadow itu cenderung tidak disadari oleh seseorang. Terlebih, jika menggunakan teori Freud tentang mekanisme pertahanan diri maka biasanya digunakan untuk menolak shadow dan kemudian semakin menutupi cahaya yang ada dalam diri manusia (Diamond, 2012).
Saat ini, setelah hampir 20 tahun psikologi positif hadir. Psikologi positif mulai mendapat tempat di antara ilmuan-ilmuan psikologi. Jurnal-jurnal penelitian psikologi mulai banyak diterbitkan, buku-buku mulai memenuhi toko buku dan perpustakaan, mahasiswa-mahasiswa mulai tertarik mengaji tema-tema psikologi positif. Hingga tahun 2005 saja, rasio artikel penelitian yang diterbitkan mengenai depresi dan kesejahteraan psikologi meningkat menjadi 5:1 yang pada 7 tahun sebelumnya masih 7:1. Seligman mengatakan, ada hampir lima kali lebih banyak makalah diterbitkan berdasarkan harapan daripada pada keputusasaan, dan 3,5 kali lebih banyak artikel tentang optimisme daripada pesimisme. Saat ini, menurut Seligmand, psikologi tidak lagi sekedar ilmu patologi dan depresi (Boniwel, 2012)
Seligman (2000) mengatakan bidang psikologi positif pada tingkat subyektif adalah tentang pengalaman subjektif yang berharga: kesejahteraan, kepuasan, dan kepuasan (di masa lalu); harapan dan optimisme (untuk masa depan); dan arus dan kebahagiaan (di masa sekarang). Pada tingkat individu, ini adalah tentang sifat individu yang positif: kapasitas untuk cinta dan panggilan, keberanian, keterampilan interpersonal, sensibilitas estetika, ketekunan, pengampunan, orisinalitas, pemikiran masa depan, spiritualitas, talenta tinggi, dan kebijaksanaan. Di tingkat kelompok, ini adalah tentang kebajikan masyarakat dan institusi yang mendorong individu menuju kewarganegaraan yang lebih baik: tanggung jawab, pengasuhan, altruisme, kesopanan, moderasi, toleransi, dan etika kerja.

Masa Depan
Sangat susah untuk menjelaskan mengenai masa depan, ‘kan? Namun apa salahnya memprediksi berdasarkan ilmu yang sudah ada saat ini.
Sejak awal kemunculannya, banyak yang memandang sinis dengan kehadiran psikologi positif. Banyak sekali kritik dan yang menyangsikan kehadirannya sebagai salah satu bagian dari psikologi. Boniwell dalam bukunya Positive Psychology in a Nutsell menyatakan beberapa hal tentang ‘apa yang salah dengan psikologi positif?’ hal itu antara lain adalah;
a)      Kurangnya pengakuan akan akar sejarahnya
b)     Kurangnya teori kohesif
c)  Reduksionis (menyederhanakan gejala, data, dsb, yang kompleks sehingga tidak kompleks lagi) metodologi ilmiah
d)     Menarik kesimpulan besar dari hasil temuan (penelitian yang) lemah
e)      Bahaya (jika malah) menjadi gerakan ideologis
f)      Positif sebagai ekspektasi masyarakat
g)     Ketidakpedulian akan aspek positif dari pemikiran negatif
h)     Satu sisi (berat sebelah) dan kurang seimbang
Beberapa tokoh psikologi bahkan menginginkan psikologi positif lenyap, namun ada pula yang mendukung seperti Diener (2003) yang mengatakan bahwa: “Harapan saya adalah bahwa psikologi positif adalah gerakan yang pada akhirnya akan lenyap karena menjadi bagian dari struktur psikologi. Dengan demikian, itu akan memudar sebagai gerakan/kampanye justru karena telah begitu sukses.” (Lindney, 2006).
Dilihat dari usianya yang terbilang muda, perkembangan psikologi positif sebenarnya telah mulai memengaruhi perkembangan generasi muda yang saat ini dan akan datang akan memegang dunia. Sebagai contoh, banyak dari generasi millenial saat ini lebih memilih menjadi pengusaha, pekerja lepas, dan tidak terikat dengan jam kantor karena ingin bebas. Gererasi muda berlomba-lomba menjadi yang terbaik dan bahagia dengan cara sendiri. Buku-buku motivasi dan pengembangan diri naik penjualannya dibaca mereka yang ingin menemukan dan mengembangkan dirinya. Di Indonesia, penjualan buku pengembangan diri naik hingga 5% (IKAPI, 2015).
Industri kreatif yang sangat berkembang saat ini adalah bukti kreativitas serta inovasi generasi muda juga ikut berkembang dan mungkin akan semakin baik. Dunia yang berubah setiap detik, transportasi yang semakin canggih internet yang semakin cepat membuat tidak ada lagi batas. Hal ini menuntut manusia untuk ikut berubah, mengasah kreatifitas, menjadi yang unik, membuat inovasi baru, dapat menjadi global citizen yang berpengaruh dalam perkembangan dunia. Dan psikologi positif mengharuskan kita untuk mempertimbangkan bagaimana kita bisa menjadi diri terbaik kita bagi dunia, bagi masyarakat dan satu sama lain. (Skinner, Suzy, 2016).

Pada akhirnya, psikologi positif akan terus berkembang, ilmuan terus melakukan penelitian untuk menjawab semua kritik yang hadir. Psikologi positif membawa pengertian bahwa sebenarnya manusia memiliki potensi atau kemampuan untuk memproses dirinya sendiri (untuk menemukan  potensi diri, mengembangkan, hingga mencapai kebahagiaan).
Dunia sudah lelah melihat kegelapan. Ia ingin melihat senyum dan tawa bahagia serta perdamaian penghuninya. Dan itu semua, dimulai dari membuka pintu dan membiarkan cahaya dalam diri terpancar.




DAFTAR PUSTAKA

Boniwell, Ilona. (2012) Positive Psychology in a Nutshell:The science of happiness (Thrid edition). England: Open University Press
Diamond, S. (2012) Essential Secrets of Psychotherapy: What is the "Shadow"?, diakses melalui https://www.psychologytoday.com/blog/evil-deeds/201204/essential-secrets-psychotherapy-what-is-the-shadow
Ikatan Penerbit Indonesia, (2015). Data Perbukuan Indonesia. Diakses melalui http://www.ikapi.org/berita1/news/item/60-data-perbukuan-indonesia
Joseph, Stephen. (2015). Looking to the Future of Positive Psychology. Diakses melalui https://www.psychologytoday.com/blog/what-doesnt-kill-us/201505/looking-the-future-positive-psychology
Linley, P. Alex., dkk. (2006). Positive psychology: Past, present, and (possible) future. University of Leicester. 1(1): 3–16 http://personalpages.manchester.ac.uk/staff/alex.wood/positive.pdf
Peterson, Christopher. (2009). The Future of Positive Psychology: Science and Practice. Diakses melalui https://www.psychologytoday.com/blog/the-good-life/200912/the-future-positive-psychology-science-and-practice
Seligman, Martin E. P. dan Mihaly Csikszentmihalyi. (2000). Positive Psychology: An Introduction. American Psychological Association. lnc. Voh 55. No. 1. 5 14
Skinner, Suzy. (2016). The Future of Positive Psychology: Being Your Best Self for The World. Diakses melalui http://www.roarpeople.com.au/roar-people-blog/the-future-of-positive-psychology-being-your-best-self-for-the-world
Tumanggor, Raja Oloan. (2016). Perbedaan antara Pendekatan Hedonis dan Eudaimonis atas Quality Of Life: Kajian Filosofis. Universitas Tarumanegara. diunduh melalui https://www.researchgate.net/publication/317576079




You Might Also Like

0 komentar