Swift

2122 (Rak yang Hilang)

“Haii..haha..haii..”
“temenin aku ke toko buku yookk !!!”
“kapan??”
“yaa.. maybe hari ini..”
“jiahh,, yang ngajak aja belum tau kapan perginya.. tapi oke lah !!”
Teriakanku itu mengagetkan teman-temanku yang sedang santai duduk berkumpul di halaman kelas (biasa,, ngerumpi… tapi nggak sering kok..)
“huahh.. panasnya hari ini..” desahku
“betul sekali va..” Rani berkomentar
“didunia aja udah sepanas ini apalagi kalo diakhirat..
“kayaknya bumi kita tercinta ini sudah murka kali ama kita-kita??” tambahku cepat
“yaahh va.. kalo bumi udah murka ngapain kita masih disuruh tinggal disini???” seru Torus
“betul itu !!, mungkin aja kita sudah dilempar ke planet Jupiter !!” tambah Navia tak mau kalah

“HAAHAHAHHAHAHA….” Semuanya tertawa lepas dengan nada khas remajanya..

Memang hari ini cerah (baca: panas) nya bukan main. Sampai-sampai lapangan yang seharusnya kotor menjadi bebas dari berbagai macam sampah-sampah (baca: manusia).

***

Walaupun ujian semester telah berakhir dan kegiatan classmetting sedang berjalan, tapi untuk pagi ini anak-anak U C A harus datang lebih pagi dari biasanya. Tak terkecuali aku..
Reni, Rani, Navia, Dita, Aulia, Ella, Oscar, dan Torus kami semua adalah sebagian kecil warga U C A yang semuanya berjumlah 32 orang ini.
U C A bukan hanya sebuah kelas biasa, yang mempunyai kenangan biasa karena U C A tidak hanya menyimpan kesedihan, tidak hanya menyimpan kesenangan, tidak hanya menyimpan cinta dan kasih sayang, tetapi U C A menyimpan sejuta kenangan yang luar biasa indah.
Bagiku, kamu dan kita semua. (oOps.. lupa?? Namaku Reva..)

Okay all flashback,

Kami mendapatkan sebuah nama untuk kelas yang satu ini ‘U C A’ yaa.. U C A adalah singkatan dari Unlimited Class A sebuah kelas di SLTP 22 Cendana Raya yang memuat anak-anak ‘unggulan’ sekolah. Dalam kelas ini semuanya ada (pasar kali yee???) bukan hanya yang mendapat ranking pertama pada semester sebelumnya bukan juga sang master matematika ataupun master sains, tetapi anggota kelas ini adalah yang sebagian besar yang mempunyai bakat di bidang olahraga, masternya catur, pelukis, penyanyi, penulis, sampai-sampai pelawak (hehehehe..) pun menjadi anggota keluarga U C A. Sungguh Unik kelas ini.
Berkumpul dan bercanda ria bersama U C A memang tiada habisnya, Aku merasa masih belum mengenal semua yang ada didalam keluarga ini. Dan sepertinya aku baru melihat sebuah pintu berwana coklat dihadapanku. Tangan dan kakiku dingin. Aku gemetaran. Jantungku berdegup hebat. Aku ‘nervous’. Saat aku melihat semuanya telah duduk manis dibangkunya masing-masing.
“apa?? berarti sekarang aku harus bersaing dengan mereka semua??.. Oh My God please adakah yang salah denganku?? Ataukah inilah cara engkau untuk memberikan hidayah dan rezeki padaku karena aku termasuk orang yang beruntung untuk mendapatkan kelas semulia ini??” inilah yang ada dalam benakku saat itu.



“Apakah ini mimpi???” aku mengingat-ingat. Rasanya baru kemarin aku mengalami itu semua.
Dalam satu ubin dan satu atap selama 12 bulan.. 54 minggu.. 360 hari.. 8640 jam.. 518400 menit.. dan 31104000 detik . Waktu itu terlampau cepat berjalan.
Sebenarnya aku tidak sanggup berpisah dengan mereka, tapi.. itu memang yang harus terjadi dan kami harus bisa menaruh semua kenangan indah itu sampai disini.
INGAT !! aku dan mereka masih punya cita-cita yang harus terus dikejar sampai nantinya semua yang dicita-citakan itu ada dalam genggaman erat kedua tangan mungil kami.
Satu kalimat lagi dariku untuk U C A “Berkumpul bersama U C A semua permasalahan hilang, tangisan berubah jadi tawa, benci menjadi cinta, dan kesetiakawanannya melebihi kasih sayang.”
Pagi ini, tepat disebelah lapangan parkir depan dekat gerbang sekolah. Disini, ditanah ini untuk terakhir kalinya kami bersama. Kami menjalankan sesi photo bersama, bersama dengan mereka, bersama dengan wali kelas kami tercinta.
Bak photo model profesional semuanya menampilkan senyum yang paling indah dan wajah yang berseri-seri (walaupun sakit) tanpa instruksi.

Jeprett. . . . Jepret. . . Jepret. . .!!
Cherees !!...

***
Aku sebenarnya ingin sekali pergi ke toko buku setelah ini tetapi, untuk memasuki toko buku itu harus menunggu hingga pukul 12.00 karena kami masih memakai seragam sekolah (sebagai pelajar yang baikkan harus taat akan peraturan yang berlaku) hehehe…
Ternyata menunggu itu memang hal yang paling menyebalkan, tetapi itulah satu-satunya hal yang harus dilakukan saat ini. Ada sebuah pribahasa kuno mengatakan
“janganlah sekali-kali kalian menyia-nyiakan waktu”
Setidaknya ada sebuah pegangan untuk mengisih kejenuhan selama menunggu.
3 orang pertama mulai menghasud 4 orang didekatnya… Mulai mengendap-endap… Dan …
PLAK !!
“kita ketahuan…”
oOps?? (mulai panik)
Eghh, ibu?? Maaf buu?? (salah tingkah)

LAAAARRRIIIIII…..!!!! (menuju ke arahku yang sedang duduk di belakang meja piket)

7 orang warga U C A memasuki sebuah ruangan tempat dimana sesaat lagi guru-guru akan melaksanakan rapat yang membahas masalah tentang kenaikan kelas. Mereka sangat penasaran, mereka bertanya-tanya bagaimana nilai dan nasib mereka di hari esok.
Dan akhirnya.. semua diusir keluar sekolah….

MENYEDIHKAN..
***
Merah..
Warna cerah sebuah angkutan kota yang menjadi alat paling cepat dan murah (maklum..masih pelajar..) bagi kami saat ini.
Jam di Handphoneku menunjukkan pukul 11 lewat 7 menit.
“kayaknya kita belum boleh masuk kedalam nihh???” aku memberitahu
“ya.. udah kita makan dulu yook..” teriak torus cepat
“ tapi.. kamu bayarin yaa.. hohohoho..” teriak yang lain serentak
“hmm.. iyaa,,iyaa,..” jawabnya dengan nada pasrah
Menikmati sepiring sate padang dan es teh manis segelas berdua (hemat atau Pelit yahh???) dipinggiran jalan pak Abidin. Untuk kesekian kalinya rasa kekeluargaan U C A terasa hangat. Memang.. kami semua selalu memberikan kehangatan.
PLOK !!
“heii.. apa ini???” Tanya Dita penasaran
“ayo.ayo.. nihh untukk cuci tangan !!” Rani berbicara dengan nada anak kecilnya
PLOK…PLOK..PLOK..PLOK…
Bukannya berhenti ehh.. jamaah Rani semakin banyak. Satu persatu kami terkena ‘peluru’ es batu. Dan…..
Tiiitttt….

- - - - - -SENSOR- - - - - -

“sudah..sudahh.. ayoo keluar… basah semua kita didalam sini !!” teriakku sembari beranjak dari tempat duduk.
Meja yang sebelumnya bersih dan kering sekarang menjadi basah dan kotor akibat permainan perang-perangan dengan ‘peluru’ es batu itu.
“Maaf yaa..Mang..” kata Rani diikuti yang lain.
“nggak apa-apa kok…” jawab si penjual sate disertai senyum manisnya.
***
Navia menarikku dan membawaku lari menuju eskalator di dekat pintu masuk toko buku ini. Dan bersembunyi di belakang mini Photo box.
“ngapain pake sembunyi-sembunyi segala.. nantikan mereka bisa lewat sebelah sana?? ” tanyaku penasaran
“nahh..mereka lewat sebelah sini !! shhuutt..”
Dengan santainya aku dan Navia berjalan dibelakang mereka ber-7. Bahkan Oscar terheran-heran melihat aku dan Navia berjalan dibelakang mereka yang tengah sibuk menitip tas di loker penitipan.
“Loh?? Bukannya tadi kalian duluan??” Tanya Ella heran
Aku dan Navia hanya tertawa kecil.

BIASA AJA !!
***
Buku misteri yang menceritakan petualangan seseorang memasuki dimensi lain. Gravitasi dibawah nol.
Jari-jari manis Navia menyntuh 6 digit huruf di keyboard hitam itu. ‘C – L - O - S - E – R’ yaa.. itulah judul buku yang telah lama ku incar. Di perkenalkan ‘paman’ Google melalui laptopku dari situs resmi toko buku ini. Dalam situs resmi itu telah tercantum tulisan besar dengan font tebal LIMITED STOCK. Tetapi tetap saja aku menginginkan buku itu.
Dan….Benar saja..
Buku yang aku cari itu hanya dua saja yang tertinggal.
“di rak nomor berapa Nav???” tanyaku tak sabar
“2122” jawabnya singkat
“berarti…”
“sebelah sana !!” sembari menunjuk rak di sudut kanan toko buku ini.
3049..2156..2140..1578..
“bukan di sbelah sini deh kayaknya??” Reni bergeming
“so???” aku bingung
“sebelah sana mungkin??” sambarnya cepat
2118…2119…2120…2121…
“loh?? Kok?? ‘2123’ sebelah sana?? ” aku kembali bingung
“1010 Va !!” kata Aulia
“sebelahnya lagi??”
“3001 Va !!”
“ha?? Where is 2122 ???” tanyaku dalam hati
Serentak mereka bilang “sungguh aneh !!”
***
Navia membawaku menuju bagian belakang dari toko buku ini.
“Nav.. buku yang aku cari belum ketemu !!” kataku dengan nada menolak
“sebentar aja Va.. lihat itu”
“Gitar?? Maksudmu??”
“yaa. Coba kamu tebak gitar mana yang selama ini aku incar”
“loh? Kok? Kamu balik Tanya?”
“coba tebak??”
“yang coklat??”
“di sebelahnya Va..”
“yang Orange??”
“bukan Va?? Yang sebelah kiri..”
“ohh, yang itu??”
Sebuah gitar akustik berwarna putih kayu terpajang didalam sebuah etalase berbentuk persegi panjang. Memang terlihat sangat menawan.
Bukan hanya kami ber-9 saja yang kewalahan mencari buku ini tetapi juga hampir semua karyawan di toko buku ini panik dan berkeliling mencari rak bernomor 2122 juga buku itu kesana-kemari.
“oh iya Va buku itu kan tinggal dua, mungkin aja diselipkan di rak buku yang lain??” kata Dita kelelahan
“mungkin juga sihh, tapi semua karyawan disini sudah mencari kesana kemari tapi nggak ketemu juga.. memang bukan rezeki kali yaa?? Hahhaaha..” kataku lantas tertawa.
Setelah berkeliling selama hampir satu jam, dengan melibatkan karyawan di toko buku ini, aku melihat teman-temanku sudah kelelahan. Tetapi barang yang dicari pun tidak kunjung ketemu akhirnya aku memutuskan untuk tidak membeli buku itu.
“tidak mendapatkan buku misteri .. komedipun jadi.. ” gumamku
***
Akhirnya…
Rak 2122 hingga saat ini masih menjadi sebuah teka-teki yang belum terjawab oleh kami. Tapi dengan adanya kejadian itu aku semakin merasakan adanya kesetia kawanan diantara kami semua.
Inilahh sepenggal kisah manis yang penuh misteri dan teka-teki yang membuat kami semua bertanya-tanya akan keberadaan rak bernomor 2122 itu. Dan 2122 berakhir dalam sebuah angkutan umum tanpa mendapatkan sebuah jawaban.

‘21 Juni 2011’

You Might Also Like

0 komentar