Didepan Rumah Bung Karno.. (setelah revisi)
Bila sekolahku mengadakan study tour, aku hanya bisa terdiam. Aku tidak berharap mereka akan mengajakku. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan pada dunia bertapa aku sangat ingin seperti mereka, bisa melihat semua keajaiban yang diberikan Tuhan pada Dunia.
Sayang aku terlahir dalam keadaan buta, tragisnya kadang mereka sering membicarakan kekuranganku di hadapanku sendiri. Tanpa mereka sadari bahwa aku masih mempunyai telinga yang selalu dipakai untuk mendengar dan itu masih berfungsi.
Walaupun begitu aku tidak pernah merasa ingin membalas semuanya, karena aku sadar inilah hidupku dan inilah takdirku.
Aku tidak pernah menganggap bahwa kecacatan mataku merupakan sebuah beban yang besar dalam hidupku. Dan aku bersyukur bahwa dalam keadaan seperti ini masih ada sang Mama yang selalu membimbing jalanku, Mama yang selalu membelaku saat banyak anak-anak seusiaku yang mengejekku.
Benar kata orang bahwa Mama atau Ibu bagaikan sang Surya yang menerangi dunia. Mama adalah mataku karena Mama adalah penunjuk jalanku. Mama adalah guruku karena dari beliaulah aku mengenal namanya Matematika, mengenal tulisan (walaupun hanya huruf Braille), dan Mama, yang telah memperlihatkan kepadaku betapa indahnya Dunia ini.
***
Aku dan Mama berjalan menyusuri trotoar di sepanjang Jalan Soekarno. Anda pasti heran mengapa jalan ini dinamakan Jalan Soekarno. Yap, karena di pertengahan jalan ini terdapat sebuah rumah sederhana peninggalan Bung Karno yang pada zaman penjajahan dahulu Ir. Soekarno pernah diasingkan ke Bengkulu oleh para penjajah tahun 1938-1942 beliau disini. Disinilah beliau bertemu cinta sejatinya. Begitulah cerita yang ku dengar dari Mama.
Fatmawati. Ya, itulah ia. Putri asli Bengkulu yang berhasil meluluhkan hati Bung Karno. Aku bangga padanya, beliau adalah satu-satunya putri Bengkulu yang pernah dinobatkan sebagai 1st Lady of Indonesia. Sungguh ini pencapaian yang luar biasa.
Mungkin karena itulah Mama memberiku nama Fatmawati karena dia berharap bahwa nanti dengan kekerbatasanku sekarang aku bisa menunjukkan pada Dunia bahwa aku bisa menaklukkannya.
Di sepanjang jalan ini terdapat banyak sekali kerajinan khas Bengkulu. Tak heran daerah ini dinamakan sentra kerajinan khas. Aku mendengar beberapa orang berbicara dalam bahasa asing, mungkin yang berbelanja itu adalah turis mancanegara yang sengaja datang untuk melihat keindahan Kotaku tercintaa. Aku ingin melihat paras orang itu tapi, apa boleh buat aku tidak akan pernah bisa melihat.
“Nah, sayang, kita sudah sampai didepan rumahnya Bung Karno”
“Benarkah Ma??” bertanya. Melepaskan genggaman tangan Mama. Aku berlari kearah dimana saat itu aku menghadap. Tanpa tahu keadaan disekitarku. Tiba-tiba…
“Teettt….” Suara klakson kendaraan terdengar di telingaku
“awass Fatma…!!!” teriak Mama
***
Aku tertidur. Aku merasa dibawa kesuatu tempat yang indah. Merasa tenang disana. Aku dapat melihat semuanya hamparan pasir putih nan luas tempatku berpijak sekarang. Dihadapanku terlihat birunya air laut yang membentang luas sejauh mata memandang. Indahnya tempat ini.
“wow.. aku bisa melihat?? Yaa.. AKU BISA MELIHAT !!” aku berteriak sekencang-kencangnya.
Anehnya di tempat seindah ini hanya ada aku seorang.
“Eiits..” aku terkejut, merasa ada seseorang yang menepuk bahuku dari belakang. “Anda siapa?? Dan sekarang aku ada dimana??” tanyaku kepada seseorang yang mengejutkanku.
Wanita yang berada dihadapanku ini sangatlah cantik, tetapi kelihatan misterius.
“Pejamkan matamu, dan rasakan apa yang ada di sekelilingmu..”
“Untuk apa??” tanyaku bingung “Anda tahu bahwa aku sudah bosan hidup dalam kegelapan aku ingin melihat dunia.. kata orang dunia ini indah.. dan sekaranglah aku melihatnya. Ini adalah kesempatan emasku !!” aku bingung.
“Tadi kamu bertanya aku siapa?? Dan sekarang berada dimana?? Iyakan??”
“iya sih..tapi?? hmm. Okelah…” akupun menuruti perintah seseorang itu. kami sama-sama terdiam aku merasakan semilir angin pantai nan lembut.
“kamu tahu sekarang??” tanyanya
“ehm.. seperti?? Yaa.. ini Pantai Panjang kan?? aku sering kesini. Bersama Mama. Ini adalah tempat favoritku dengan Mama. Mama pernah bilang kalau pantai ini sangat indah bahkan lebih indah dari Pantai Kuta di Bali. Ternyata Mama nggak bohong, walau aku belum melihat Pantai Kuta di Bali tapi, aku percaya bahwa Pantai ini memang sangat pas untuk dijadikan Icon wisata Provinsi.
Ngomong-ngomong Mama dimana sekarang?? Dimana Mama ??”
“Shutt….” Jari lembut itu menyentuh bibirku
“Shutt….” Jari lembut itu menyentuh bibirku
“Tetap pejamkan matamu dan usaplah wajahku. Hayati dan rasakan apa yang sedang kamu usap sekarang..” tangannya mengangkat tanganku dan meletakkan diwajahnya.
Aku menikmati suasana disini. Aku meraba wajahnya. Merasakan setiap lekukan wajahnya. Menyentuh pipinya yang basah, aku tak tahu karena apa mungkin dia barusaja menangis.
“Jadikanlah sebuah kekuranganmu adalah seribu kelebihanmu, dan ingatlah selalu ada kebahagiaan bagi siapapun yang percaya kalau Tuhan tidak menciptakan kita dengan sia-sia didunia ini tetapi Ia memiliki rencana yang indah ” dia mencoba memulai pembicaraan
“Kata-kata itu??? Mama ?? ini Mama kan?? Ya ini Mama !! barusaja aku bisa melihat Mama wajah Mama sangat cantik, wajah Mama bercahaya. Mama terlihat seperti Peri Penyelamat yang diturunkan Tuhan dari Surga. Ma, kok mama diam?? Aku bisa melihat Ma.. Bukankah itu yang kita harapkan Ma?? Izinkan aku membuka mataku ma. Aku ingin melihat Mama lagi Ma…MAMA !!” aku memohon dan akhirnya berteriak.
Aku berusaha membuka mataku. Sekuat tenaga aku paksakan mataku untuk melihat. Tetapi tetap tidak bisa. Hanya terlihat kegelapan yang tak terbatas didepanku. Aku ingin melihat Mama lagi, melihat dia selamanya, melihat Dunia seterusnya. Aku ingin terus bersama mama. Selamanya ya.. selamanya.
Terasa hangatnya pelukan seorang ibu dan dia berkata..
“Dek, mama kamu udah pergi untuk selamanya barusaja dia menyelamatkanmu dari sebuah mobil yang hendak menabrakmu didepan rumah peninggalan Bung Karno. Dia mama yang baik nak. Sekarang kita lagi dijalan menuju rumah sakit.”
Seketika, mataku yang sedianya tidak berfungsi ini menumpahkan air mata. Aku menagis sejadinya. Aku tak sanggup, aku tak kuasa memdengar perkataan seorang ibu itu. Tetapi, setidaknya aku bisa bertemu dan melihat wajah mama untuk pertama dan terakhir kalinya. Melihat tempat favorit kami berdua. Walau hanya beberapa saat saja.
Aku tidak akan melupakan kata terakhir yang mama ucapkan padaku. Mama memang sosok yang membuatku semangat dia tidak pernah melihatku sebagai anak yang mempunyai kekurangan tapi dia melihatku bagaikan malaikat kecil yang datang untuk menyempurnakan hidupnya yang hanya berlangsung singkat.
Tuhanku izinkan aku memohon Lindungi Mama dalam teduh karunia-Mu..
Aku Sayang Kamu Peri Penyelamatku.. MAMA ..!!
Bengkulu, 10 Agustus 2011
Erva .D Aryanti
00.00 wib

0 komentar