Terbaik dari Tuhan
Selalu
ada kebahagiaan bagi siapapun
yang
percaya kalau Tuhan tidak menciptakan kita sia-sia didunia ini.
Tapi Ia memiliki rencana Indah. –Agnes
Davonar-
Vella
masih saja diam. menatap tajam bulan keemasan yang cahayanya menyiram segala
penjuru kota ini.
Malam
itu, cahaya bulan hinggap di atas lembaran-lembaran daun nyiur. Di
beranda rumahnya. Di sebuah bale yang terkesan tua dan lapuk. Vella pun melebarkan
tatapan mata dari ke bintang-bintang yang berhamburan diatas sana. Rumah yang
dindingnya terbuat dari bambu, beratapkan jerami.
Semilir
angin malam yang berhembus sepoi-sepoi membuat daun-daun nyiur itu seperti
menari-nari. Diiringi oleh nyanyian merdu yang mencengangkan pendengaran dan
tata lampu yang membius penglihatan. Nyanyian dari suara jangkrik-jangkrik dan
tata lampu alam, bulan purnama. Beribu bintang disana seaakan menjadi penghibur
hati Vella yang sedang dilanda perasaan gundah gulana.
Vella
termenung. Matanya yang bulat mulai terlihat berkaca-kaca, meneteskan air mata dan
mengalir semakin deras. Melewati pipi kemudian dagu mungilnya. Hingga menetes
membasahi lantai beranda rumah yang sepenuhnya tanah. Kering dan berdebu.
Namun, sangat lembap. Bahkan ‘becek’ jika musim penghujan datang.
“Ya
Tuhan, inikah yang kau mau??” tanyanya seraya memandang indahnya bulan disana
“Apa maksud dari semua ini Tuhan? Aku bingung? Aku tak mengerti? BERI AKU
PENJELASAN YA TUHAN !!!” pintanya pada Tuhan ”Aku mohon!!”
Vella
menangis ia terpaut masuk dan tenggelam dalam sebuah kata ‘NASIB’. Ya, dia
sangat bingung memikirkan nasibnya pada hari-hari kedepan. Setelah ia diusir
paksa oleh kedua orang tuanya dari rumah.
***
Vella,
seorang anak remaja yang harus menerima penderitaan pahit. Ia harus menghadapi
kejamnya dunia yang fana ini seorang diri. Untunglah seorang perempuan baik
hati yang berhasil menemukannya, dan bersedia mengangkat ia sebagai cucu
angkatnya. Nek Ros begitulah Vella menyapa. Satu minggu yang lalu, Vella diusir
paksa oleh kedua orang tuanya karena dianggap sebagai anak ‘pembawa sial’ dan
tak segan-segan Ibunya berkata bahwa Vella adalah keturunan ‘Penyihir’.
Kejadian
ini bermula saat Vella bermimpi. Tiga hari sebelum kejadian naas yang menimpa
Vellie adik kembarnya. Dalam mimpinya dia melihat Vellie berada dalam sebuah mobil
yang dikendarainya sendiri. Mobil itu terlihat masih baru. Vellie tampak sangat
bahagia mengendarai mobil itu. Tapi, disisi lain Vella menangkap sosok berjubah
hitam yang duduk di sebelah Vellie dan sosok berjubah hitam itu mencekik hingga
membuat Vellie kehilangan kendali hingga menabrak sesuatu di depannya. Sesuatu
yang tak bisa ku tangkap sempurna.
Vella
terbangun. Kemudian menceritakan semuanya kepada Ayah, Bunda serta Vellie.
Hanya tertawaan dan ledekan yang ia dapat.
“Haa.ha..haa..
kamu ini La, bisanya bercanda aja..” Ledek Bunda.
“Ahh,
Bunda tapi mimpi tadi terasa nyata!!” Vella membela diri “Untuk ulang tahun
kami nanti nggak usah belikan mobil baru ya Bun, aku takut..”
“Kamu
ini apa-apaan sih kak?! Bukannya itu yang kita mau dari dulu! Sebuah mobil baru
untuk kita berdua.. Apa kakak nggak ingat??” teriak Vellie tak terima.
“Iya
Lie, kakak ingat!! Tapi kakak takut hal itu benar-benar terjadi padamu..”
“Sudah..sudah..
Jangan bertengkar!” Ayah melerai.
“Iya..”
Bunda menyetujui Ayah “Vella mimpi itu bunga tidur, nggak mungkin kenyataan..”
Bunda berkata dengan penuh keyakinan.
“Tapi
Bun,…”
“Sudahlah,
percaya deh sama Bunda! Iya kan Yah??”
“Iya”
jawab ayah dengan penuh yakin.
***
Semua
itu benar-benar terjadi. Mimpi itu menjadi kenyataan.
15
Desember. Masih terbayang dalam ingatan Vella. Ia masih ingat jelas hari itu,
hari dimana mendadak duka menyergap ia dan keluarganya. Tepat dimana hari ulang
tahun Vellalie --sapaan singkat untuk memanggil Vella dan Vellie-- terdengar
aneh memang. Kalau diperhatikan akan terdengar seperti seorang balita sedang
menyebut merk sebuah mobil yang berasal dari Italia. Ferrari namanya.
Vellie
meninggal dalam sebuah kecelakaan tunggal tepat 500 meter dari rumah. ia
menabrak pohon beringin tua saat sedang mencoba mobil baru yang diberikan Ayah
dan Bunda sebagai hadiah ulang tahun mereka. Menurut saksi mata Vellie
mengendarai mobinnya dengan keepatan tinggi. Dan tidak lama mobil itu menjadi
liar. Tak terkendali. Kelihatannya Vellie mabuk deh, begitu kata seorang
gadis yang menjadi saksi mata.
Sejak
itulah Ayah dan Bunda menganggap bahwa Vella adalah anak pembawa sial. Mereka
berdua sangat membenci Vella.
“Ngapo
masih diluar??” Tanya Nenek
“Ahh,
nenek ngagetin aja..” Jawab Vella sembari menghapus air mata yang membasahi
wajahnya
“Masuklah,
hari lah malam dak elok tino duduk malam-malam diluar dewek-an ”
Vella
menuruti perkataan Nek Ros. Ia diantar Nek Ros masuk kedalam kamar. Kamar itu
sangatlah kecil. Berukuran kira-kira 1 x 2 meter persegi. Dan mempunyai satu tempat
tidur yang sudah ‘reyot’. Hal ini sangatlah kontras jika di bandingkan dengan
keadaan di rumah Vella yang sebenarnya. Dulu Vella tidur dalam kamar yang luas,
dengan berbagai fasilitas mewah didalamnya, tidur diranjang yang empuk dan
nyaman.
Apakah
ini layak jika disebut kamar?
***
Malam pun bergulir berubah menjadi
pagi. Cahaya fajar merambahi kota yang seolah ingin melenyapkan sisa dinginnya
malam hingga berganti hangatnya siraman sinar mentari pagi.
Vella
bangun kesiangan. Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, ia bergegas menuju
kamar nenek.
Nenek
sudah bangun belum, ya?.
Dengan
sedikit berlari ia menghampiri pintu kamar dan mengetuknya pelan sekali. Sampai
tiga kali ia mengetuk tak ada sahutan dari dalam. Jangan-jangan nenek sudah
bangun dan bersih-bersih di halaman atau mungkin sedang memasak di dapur. Penasaran
setelah ketukkan kelima tetap saja tak ada sahutan. Akhirnya ia putuskan untuk
membuka pintu. Benar, kamar nenek telah kosong. Kamar itu sudah rapi.
Aku
berjalan menuju beranda depan. Matanya melirik, pandangannya melebar keseluruh
penjuru halaman rumah.
“Ehh,
Vella lah bangun?”
“Astaga!
Nenek.. Hampir jantungan nih..” Vella mengelus dada
Nenek
tertawa. “Maaf yo..” Kata nenek sembari mengayunkan sapu ke dedaunan
yang beserakan.
“Ndak
Vella bantu Nek?” Tawarnya
“Dak
usah lah, tanggung dikit lagi!” Jawab nenek singkat
“Hmm,
kalo gitu aku duduk disini aja temenin nenek..” Vella duduk di bale
tempat tadi malam dia termenung memandang bulan. Ia menarik napas panjang,
membuka jalan kepada oksigen untuk masuk kedalam tubuhnya. Terdengar hembusan angin pagi sepoi-sepoi
menerpa tubuh. Jiwa raganya menyatu dengan alam. Hening, terasa damai.
Tiba-tiba
semua yang ia rasakan sebelumnya hancur lebur dan berantakan. Kilat terlihat
menyambar dan menyerang sebuah rumah. Kilatan itu berubah menjadi api, api
merah yang sangat besar. Ia mencoba melihat lebih dalam lagi.
Ya!
Itu rumahku! Akan ada kebakaran disana.
Hati
Vella yang sebelumnya tenang kini kembali gundah gulana.
“Oh
Tuhan, pertanda apa ini??” Kepalanya melihat keatas, menatap mentari yang telah
lama berdiri di ufuk barat. “Aku tidak bisa membiarkan ini! Aku harus kesana!!”
Dengan semangat Vella berdiri, berlari ke kamar mengambil uang seribuan yang
dia bawa saat meninggalkan rumah.
“Aku
pergi dulu Nek!” Teriak Vella
“Ndak
kemano La? Oy! Ndak Kemano?!” Nek Ros berusaha mengejar dan
memanggil Vella. Tetapi ia terlambat Vella sudah terlampau jauh untuk di kejar.
***
“Ngapain kamu kesini lagi Vella?? Belum puas kamu bikin
sial keluarga kita?” Teriak Bunda Vella.
“Bun,
Yah, dengerin Vella dulu. Kalian harus pindah dari rumah ini! Akan ada sesuatu
yang menimpa kalian, akan ada kebakaran disini!”
“Halah!
Kebakaran apa?? nggak mungkin…” Ayahnya berkata seraya membaca Koran.
“Aku
serius Bun, serius Yah! Apa kalian nggak ingat tentang kematian Vellie? Tiga
hari sebelumnya aku pernah berkata pada Ayah, Bunda, dan Vellie, kalau aku bermimpi
bahwa Vellie menabrak sesuatu saat dia sedang mengendarai sebuah mobil yang
terlihat baru. Dan aku mohon pada kalian untuk tidak membelikan aku dan Vellie
mobil baru pada hari ultah kami. Kalian ingat kan??” Vella membela diri.
“Ahh, sudahlah La! Kami tidak percaya dengan
hal-hal begituan. Vellie meninggal itu karena emang kamu yang salah! Karena
kamu adalah pembawa sial. Kamu keturunan penyihir jahat! Bilang aja kalau kamu
yang buat Vellie kecelakaan, ya kan??” kata ayahnya dengan mata melotot.
“Yah,
kalian harus percaya dengan apa yang aku katakan. Aku tidak sedang mengada-ada,
aku serius!”
Bunda
menagis. “Pergilah La, jangan ganggu kami lagi. Bunda mohon Nak…”
“Pergilah!
Pergi kamu dari sini anak penyihir!!” Kata ayahnya mengusir.
Vella
berjalan keluar dari rumah. Dia menangis. Kedua orang tuanya sudah tidak lagi
mempercayainya. Air matanya yang jatuh menjadi jejak yang tertinggal di setiap
langkahnya.
Ya
Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatnya mereka?Aku tahu Tuhan ini
pasti sebuah petunjuk darimu agar aku bisa menyelamatkan mereka.
BRUKK!!
Vella
telah menabrak seseorang didepannya.
“Ups!
Maaf Mas, aku nggak lihat jalan… Maaf ya Mas.” Dia meminta maaf.
“Ohh,
gapapa..” Jawab lelaki itu seraya membersihkan celananya yang kotor oleh tanah.
Mata Vella tak berkedip saat lelaki itu menatapnya. Vella terpana. Wajahnya
telah melanggar seluruh hukum estetika. Kesulitan menutup rahang mulutnya.
Matanya pasti perih karena dia tidak mengizinkan matanya berkedip sedetikpun,
karena tak sudi untuk kehilangan saat-saat langkah dalam hidupnya.
Hampir
tak sampai satu langkah dia berhadapan dengan pria ganteng, macho,
tegap, gagah, dan… apa lagi ya?? Dia kehilangan telah kahilangan kata pujian.
“Kamu
gak apa-apa kan?” Tanya lelaki itu pada Vella
“Ehh,
ya.. Nggak apa kok.” Vella terkejut.
“Ohya,
rumahmu dimana? biar aku antar..” tawar lelaki itu sopan
“Terima
kasih, udah dekat kok..” tolaknya sopan, seperti lelaki tadi.
“Kalau
gitu aku duluan ya, sampai jumpa.. J” lelaki itu
berlalu seraya melambaikan tangan dan melempar senyum manis kearah Vella. Vella
pun membalas dengan senyum termanisnya.
“OMG!
Aku lupa, siapa nama lelaki itu yaa??” tanyanya pada diri sendiri “Ahh, apa sih
aku ini!”
Tak
berapa lama akhirnya Vella telah sampai di depan rumah sang nenek. Ternyata
sang nenek sangat setia menanti kepulangan cucu barunya.
Sangatlah
jelas tampak di raut wajah Nek Ros sebuah kegalauan. Lebih tepatnya
kekhawatiran.
“Nenek,
Kok disini? Nggak masuk?”
“Sayo
nunggu kau Vella! Kau dari mano??”
Vella
diam sejenak “Dari rumah Bunda..” jawab Vella seraya menunduk.
“Lha,
Ngapo cak-nyo kau dak senang??” Tanya nenek. “Pela, duduk
dulu siko.”
Mereka
terdiam sejenak.
“Nah,
cepeklah cerito, apo masalah kau? Ngapo kau sedih?” Tanya
nenek kembali
Vella
kemudian menceritakan semuanya. Vision sering muncul salam mimpinya, atau
yang terlintas di pelupuk matanya dalam proses yang tak terduga. Datang begitu
saja. dia juga menceritakan peristiwa meninggalnya Vellie yang menyebabkan
kebencian orang tuanya. Nek Ros sangat menyimak cerita Vella. Tanpa sadar air
matanya kembali jatuh dengan derasnya. Membentuk aliran seperti sungai pada
wajah mulusnya.
“Nek,
Nenek percaya dengan semua yang aku ceritakan?” tanyanya ragu
“Yo!”
“Kenapa?
Semua orang sudah tidak mempercayaiku Nek. Bahkan Bunda dan Ayah juga sudah tak
percaya lagi dengan apa yang aku katakan.”
“Nanti
kamu akan mengerti!”
Hujan
deras terjadi malam ini. Kilat-kilat saling sambar-menyambar. Suara Guntur yang
tak henti-hentinya bersahutan sebagai pengganti lolongan anjing-anjing liar
malam ini.
Vella
pun terlihat sangat takut, dia tidak berani untuk tidur. Dia berjuang sekuat
tenaga untuk melawan rasa kantuknya, Karena dia tahu akan ada yang terjadi
sebentar lagi. Dia hanya mondar-mandir dalam kamar seraya mengucapkan doa-doa
agar ayah dan bunda-nya diberi perlindungan. Hingga akhirnya dia kalah dan
benar-benar tertidur.
***
Semuanya
hilang. Hilang tak bersisa. Hanyalah puing-puing kehancuran disini. Vella
menangis. Menangis sejadinya. Ia menyesal, menyesal kenapa ayah dan bundanya
tidak mempercayainya. Menyesal kenapa dia tidak bisa menyelamatkan kedua orang
tuanya tadi malam.
Lagi-lagi
hati Vella hancur. Kini hatinya telah berserakan, lebur bersama abu dan puing-puing
rumahnya. Juga bersama jasad orang tuanya sudah tak diketahui dimana
keberadaannya.
“Kenapa
engkau harus memberi tahuku tentang kejadian ini sebelumnya. Tuhan? Derita ini
sungguh berat untuk aku hadapi Tuhan..” Vella berteriak dan menangis didepan
puing-puing rumahnya.
“Sudahlah, Ikhlaskan saja.. mereka tenang disana..”
Terdengar
bisikan seseorang ditelinga kanannya. Vella menoleh. “Kamu?”
“Ya!
Sudah lama aku memperhatikan kamu Vella..”
“Kamu
tau namaku?”
“Ya!
Sudahlah tinggalkan saja tempat ini. Ayo ikut aku.”
Mereka
berdua berjalan berdampingan. Untuk sementara mereka hanya diam. Tak ada yang
berani memulai bicara.
“Namamu
siapa?” Vella mencoba mencairkan suasana.
“Oh,
Namaku Bondan. Vella..”
“Kok
kamu tahu namaku, Boo...?” Tanya Vella, kesulitan mengulang nama lelaki itu.
“Bondan,
La.” Dia membenarkan. “Saat aku melihat kamu, aku merasa ada cahaya diwajahmu
yang membuat aku penasaran. Aku tidak bisa menjelaskan tentang cahaya itu,
karena aku juga tidak mengerti.” lanjutnya
“Aku
belum mengerti?”
“Aku
juga tak mengerti.” Katanya seraya tertunduk malu. “Apakah kau mau jadi
sahabatku?”
Vella
terdiam sejenak “Kenapa kau mau berteman denganku? Semuanya membenciku, bahkan
ayah dan bunda juga membenciku mereka menyebutku ‘anak penyihir’”
“Ha?
Mengapa?”
“Satu
bulan yang lalu, adik kembarku. Vellie namanya. Dia meninggal dalam sebuah
kecelakaan mobil pada hari ulang tahun kami. Mobil itu masih baru, pemberian
dari ayah dan bunda sebagai hadiah ultah kami.”
“Terus?
Apa hubungannya?”
“Aku
mempunyai kelainan, mungkin ini yang disebut ‘indera keenam’ setiap kejadian
yang akan terjadi, sebelumnya aku telah mengetahuinya. Aku tak tahu bagaimana
prosesnya, yang aku tahu gambar-gambar aneh itu muncul seketika dan hilang begitu
saja dari benakku.”
Bondan
sangat antusias memberikan penjelasan pada Vella. Mereka larut dalam
pembicaraan panjang.
“Vella,
kamu itu beruntung kamu adalah anak terpilih, anak yang dipilih Tuhan untuk
menyampaikan sebuah misi, sesuatu yang tidak semua orang dapatkan. Kamu akan
jadi penyelamat dunia! Kamu adalah anak gifted –Anak Indigo-.” Komentar
Bondan. “Secinta
apapun kita dengan seseorang, nanti juga kita harus rela melepaskan mereka. Ya,
bukankah hidup selalu berputar silih berganti? Ada waktu untuk menggenggam, ada
waktu untuk melepaskan. Iyakan??”
Vella tak menjawab. Hanya senyumlah
yang tersungging di bibir merah mudanya.
Bondan
telah membuat Vella mengerti, dan paham bahwa semua yang Tuhan berikan padanya
adalah hal terbaik. Sekarang Vella semakin yakin bahwa Tuhan telah menciptakan
manusia dengan sebaik-baiknya.
Glosarium
-
Nyiur :
Kelapa - Cak : Seperti - Ngapo :
Kenapa
-
Bale :
Kursi santai - Pela : Ayo - Gifted :
Berbakat
-
Tino :
Perempuan - Siko : Sini
-
Lah :
Sudah - Cepeklah : Cepatlah
-
Ndak :
Mau - Vision : Penglihatan
DIIKUTSERTAKAN DALAM SAYEMBARA MENULIS CERPEN REMAJA BALAI BAHASA BENGKULU 2011
DIIKUTSERTAKAN DALAM SAYEMBARA MENULIS CERPEN REMAJA BALAI BAHASA BENGKULU 2011

0 komentar