Swift

Dalam Bayang Putri Cempaka

Huah… aku menguap…
Rasanya tak terhitung berapa kali aku melirik jam dinding sambil menahan kantuk. Pantulan cahaya komputer merasuk jauh kedalam retina mataku seakan siap menjadi cahaya yang mengiringi  tidurku.
”Menyebalkan! Kenapa diakhir minggu pekerjaanku semakin bertumpuk. Kapakah aku bisa menghirup udara segar diluar sana kalau pekerjaan yang diberikan Bos segunung begini ?” runtukku
Kucoba berdiri. Merenggangkan otot-ototku yang tegang. Kuraih gelas kopi yang sejak lama setia menemaniku bekerja. Kuhirup aromanya lalu ku tenggak sisa kopi itu hingga tandas. Akupun melanjutkan pekerjaanku.
Setetes kopi dingin itu tidaklah membuatku lebih baik. Melainkan aku menjadi semakin mengantuk. Dinginnya AC diruang ini membuatku tambah bersemangat untuk memasuki alam lain. Ya, apalagi kalau bukan alam mimpi.

“Ehh, Bro udah kelar kerjaan loe??”
“Ehh, kamu Vel, ngagetin aja.” Aku terkejut “masih seabrek nih..” Lanjutku
“Ya udah aku pulang duluan yaa.. Bye.”

Rasa kantuk yang luar biasa hebat telah menyergapku. Mata ini sudah tak sanggup melihat layar terpaku didepannya. Karena cahayanya yang kian menyilaukan pandanganku, dan…
Satu..Dua..Tiga…TIDUR !!
Bak terhipnotis oleh sugesti ‘Uya Kuya’. Aku akhirnya memasuki alam relaksasiku lebih dalam, jauh lebih dalam dari sebelumnya. Hingga tak ku sadari komputerku masih terjaga.
*
DUARR… !!!
“Astagfirullah!! suara apa itu ??” aku kaget. Kulirik kembali jam dinding yang ternyata telah menunjukkan pukul 11 malam. Kulirik pula jendela yang masih terbuka tirainya, tampaklah kilat-kilat saling beradu unjuk kekuatan bak para pendekar sedang mengadu samurainya di medan pertempuran. Terdengar pula suara guntur dari seberang sana yang saling bersahutan bak tabuhan Drum Marching Band yang mengiringi jalannya peperangan sengit ini. Tak lupa juga kulihat rinai air hujan yang turun bagaikan tirai miring yang menutupi indah pemandangan dibalik jendela itu.   
“DASAR HUJAN SIALAN..!! gimana aku bisa pulang??” gerutuku kesal.
Baru saja aku meraih tepi tirai sebelum hendak menutup jendelanya saat mataku diperlihatkan oleh sesosok gadis dibawah sana. Dibangku panjang taman depan kantorku. Ditempat biasanya teman kerjaku menunggu bis pada jam pulang kantor. Gadis itu tampak kedinginan. Dan dia mengigil dengan kedua tangannya menyentuh dagu.
“Vellie kah itu??” aku mengusap-usap mataku. “Bukankah dia telah meninggalkan pulang sejak 3 jam yang lalu. Jangan-jangan tadi dia ketinggalan bis lagi?? Hmm.. mana mungkin lagian kalau dia ketinggalan bis biasanya dia balik kekantor. Merayuku agar aku bersedia mengantarkannya pulang, mana hujan lagi.” Aku bingung
Rasa penasaranku mendorongku untuk melihat lebih dekat.
Dengan cepat aku melesat kebawah. Secepat kilat yang menyambar diatas sana. Walaupun harus menahan sesak dalam dada karena lift yang biasa aku gunakan telah dimatikan.
Seakan tertarik oleh kuatnya medan magnet, tanpa ragu kakiku melangkah menuju bangku tempat gadis itu duduk.
Aku memandanginya sebentar. Memastikan bahwa itu bukan Vellie. Teman kantorku.
Wajahnya cantiknya berubah pucat seketika. Badannya gemetar menahan dingin yang semakin menusuk kulit menjalar cepat hingga mencapai tulang rusuk.
 “Hei, Ayo ikut !!” teriakku.
Gadis itu hanya tersenyum mendengar tawaranku. Hujan semakin deras tampaknya membuat suaraku tidak didengar olehnya.
“Ayolah cepat nanti kalo hujan semakin deras kamu bisa sakit !!” teriakku kembali sembari mengulurkan tangan.
Gadis itu tetap saja tersenyum. Dia tak memperdulikanku.
Tak ingin membuang waktu, ku raih tangannya. Ku paksa dia untuk berteduh dalam kantorku.
Cukup lama kami terdiam. Mulutku serasa digembok. Belum ada kata yang pas untuk memulai pembicaraan ini.

“Ohya, kamu pasti kedinginan. Mau aku buatin apa?? Teh, Kopi, atau Hot Chocolate??” tanyaku berbasa–basi. Mencoba memecahkan suasana yang sebelumnya terasa seperti berada di kuburan Belanda. Satu kata, MENCEKAM.
Dia tidak menjawab.
“Namaku Feri, M. Feri Wicakso tepatnya.. Namamu siapa?” Sembari mengulurkan tangan.
Dia tetap bungkam
“Oke aku buatin Hot Chocolate saja ya?? Itu minuman favoritku lho !!” candaku seraya berjalan menuju pantry.
Aku berjalan menuju pantry dengan langkah pelan sesekali. Sesekali aku menoleh kebelakang untuk melihatnya. Tatapan matanya lurus dan kosong.
Gadis cantik itu sangatlah kedingingan badannya tetap saja gemetar menahan rasa dingin padahal aku sudah bermandikan keringat sekarang, karena AC diruangan ini sudah aku matikan.

“Sudah enakan??” tanyaku pelan.
“Lumayan..” jawabnya. Untuk pertama kalinya kudengar suara merdu itu dari mulutnya.
“Baguslah !!” kataku singkat. “Kamu dari mana sih?? Kok malam-malam duduk sendirian ditaman, mana hujan lagi??” tanyaku penasaran.
“Rumah Thomas Raffles,” katanya singkat
“Wakks !! uhukk !” aku tersedak “Bisa diulang??” pintaku
“Kediaman Thomas Raffles” ulangnya
“Bukankah Raffles adalah Gubernur Inggris yang pernah berkuasa pada zaman penjajahan dahulu?” aku terheran-heran “Dan bukankah kediaman Raffles itu letaknya di Bengkulu dan sekarang rumah itu menjadi Rumah Dinas Gubernur Bengkulu??” lanjutku
“Benar !” lagi-lagi jawabannya singkat
“Terus, kenapa kamu bisa berada ditaman malam ini??” tanyaku kembali “Kamu tahu?? sebenarnya aku ini adalah putra asli Bengkulu. Baru 5 tahun aku tinggal di Jakarta setelah aku mendapat pekerjaan ini…”
“Sungguh kebetulan..”
“Sudah lama aku tidak pulang ke kampung halamanku itu. Aku tinggal di Pesisir Pantai Panjang, masa kecil ku habiskan dengan bermain dipantai. Lihat kulitku, sudah seperti orang Afrika saja! Hahaha..” kataku lantas tertawa “Kadang aku malu jika bermain dengan anak-anak keturunan Tionghoa. Malu karena warna kulitku” tambahku
“Aku juga sering bermain disana. Dulu aku tinggal kampung Cina nomor 15.”
“Hmm.. Ngomong-ngomong nama kamu siapa? kamu belum menjawab pertanyaanku tadi??”
“……………..” dia tak menjawab
“Oh, ya sudah kalau kamu nggak mau ngasih tahu namamu. Bolehkah aku panggil kamu Putri Cempaka? Karena kamu terlihat cantik sekali, seperti Putri Cempaka. Kamu pasti tahu juga tentang Putri Cempaka? Iya kan?”
Dia hanya terseyum tanpa menjawab
“Nah, kalau kamu senyum gitu berarti kamu setuju!”
“Oke, kembali ke masalah tadi apa yang kamu lakukan dirumah itu Putri Cempaka?” aku masih penasaran
“………………”
“Maaf, aku kebanyakan bertanya ya??” tanyaku “Kelihatannya kamu udah ngantuk. Kamu tidur disofa itu aja ya” aku menawarkan
“Terima kasih Feri, kamu sangat baik padaku..”
“Hahaha.. biasa saja..” kataku santai
Dia nyaris jatuh saat ingin berdiri. Tubuhnya sangatlah lemah, dia masih terlihat sempoyongan. Dengan sigap aku segera menghampiri dan menuntunnya menuju sofa. Seperti seorang ‘Superman’.
Seketika itu dia memejamkan matanya. Aku menyelimutinya dengan jaket wol biru kesayanganku. Akupun terus menatapnya lembut sembari mengelus rambut panjangnya yang basah akibat hujan deras diluar sana.
Paras gadis ini sangatlah menawan.  Rambutnya hitam dan panjang. Matanya tidak terlihat seperti kebanyakan gadis-gadis Tionghoa yang sipit. Bibirnya mungil juga merona. Bentuk badannya yang langsing membuat setiap pria terguncang iman-nya saat melihat gadis ini. Tak terkecuali aku.
Berbagai pertanyaan besar tentang sosok gadis ini muncul dibenakku. Apakah dia seorang gadis perantau yang baru saja tiba di Jakarta? Apakah dia hanya seorang traveller? Atau jangan-jangan dia seorang model yang tengah bersedih setelah putus dari pacarnya??
Ahh.. berlebihan bener aku ini, LEBAY !! kalau kata anak sekarang. Mana mungkin ada model kesasar dibangku taman malam-malam begini. Aku mencoba menepis pikiran burukku tentang gadis misterius itu.
Huaahh… aku menguap kembali. Pertanda bahwa aku masih mengantuk. Tak sanggup lagi rasanya aku menahan kantuk ini. Mataku mendelik lantas terpejam seketika. Hingga tak sadarkan diri.
*
“Fer.. Bangun Fer.. udah jam 7 nih!” terdengar suara wanita membangunkanku
“Kamu udah bangun??” tanyaku sembari mengusap-usap mataku
“Udah bangun apanya jelas-jelas gua udah bangun..” teriaknya dengan nada tinggi
“Ehh, Vellie.. tumben kamu cepet datang. O ya, kamu udah kenalan belum sama gadis yang tadi tidur disofa depan televisi itu?”
“Gadis? yang mana?” Tanyanya. “Nggak ada gadis disini?” tambahnya
Aku tersentak setelah mendengar kata itu. Aku berdiri dan langsung menatapnya. Setelah itu ku lihat meja kecil dekat pantry yang ternyata sudah rapi dan bersih.
“O ya,  Ijah –office girl kantorku-- udah bersih-bersih disini?” tanyaku  
“Bersihin apa? setahuku belum ada yang masuk kesini apalagi Ijah dia kan lagi pulang kampung jenguk anaknya..” 
“Beneran kamu nggak ketemu gadis yang tidur disofa sana?” aku memastikan
“Suer deh..” katanya sambil mengangkat jari yang membentuk huruf V “Kamu mimpi kali?” tanyanya

Sontak aku kebingungan. Tapi, aku teringat sesuatu.

“Ya. Pasti itu !” Bak orang kerasukan akupun bergegas keluar kantor menuju Bandara. Tak ku perdulikan lagi Vellie berteriak memanggil namaku.
*
Rumah tua yang kental dengan arsitektur Cina ini terlihat lusuh. Rumah ini sangatlah besar dan bertingkat tiga. Dengan sedikit ragu, aku mencoba mengetuk pintu rumah ini.
“Permisi..” kataku sopan
Kreekk..nyiitttt…. Suara denyitan pintu membuatku ngilu. Terlihatlah sesosok ibu tua dibalik pintu. Dia menyapaku hangat.
Yo, ndak cari sapo nak?” Tanya permpuan itu ramah
“Saya Feri, Bu..” kenalku “Bolehkah aku masuk?” pintaku
“Oh, masuklah..”
Mataku segera melirik kesetiap sudut dari ruang tamu ini. Terlihat sangatlah lusuh. Plafonnya sudah lapuk, kusen jendelanya sudah bolong karena dilahap rayap, temboknya pun telah retak, bahkan ubinnya pecah-pecah. Jika diperhatikan sekilasan akan terlihat seperti rumah tak berpenghuni.  
Tak sengaja lirikanku tertuju pada sebuah lukisan. Wajahnya sangat tidak asing buatku. Bukankah itu gadis semalam?
Dio anak sayo” jawab ibu itu. Seakan mengetahui apa yang ada dalam fikiranku.
“Ups, maaf Bu kalau saya lancang..” “bolehkah saya menemuinya?” pintaku kembali
“Nyo lah ninggal.” Jawab ibu itu dengan dialek Bengkulu yang kental
“Bagaimana bisa? Tadi malam saya baru saja melihatnya duduk ditaman depan kantorku di Jakarta. Dia terlihat sedih dan murung, ditambah lagi dia kedinginan akibat hujan deras tadi malam.”
“Limo tahun yang lalu nak, anak sayo dibunuh kek kawan kuliahnyo dewek pas tobo tuh lagi liburan ke Bengkulu. Anak sayo dibunuh dalam sebuah ruang bawah tanah di Benteng Marlborough. Di ruangan gelap itulah anak itulah anak sayo meninggal dengan satu tebasan pada lehernyo, dan …. Hikss..hiks..” Ibu itu menangis sejadinya. Buliran kecil air mata mengalir di pipinya yang sudah tidak mulus itu.
Jika waktu kembali diputar dan aku lebih cepat mengenalnya, mungkin tidak akan begini kejadiannya. Tapi apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur. Tak akan kembali.
Sebenarnya masih banyak yang ingin aku tanyakan tentang gadis itu pada ibunya. Tapi, aku sudah tak tega melihat ibu itu terus mengeluarkan air mata kesedihannya. Bahkan aku sampai lupa menanyakan nama gadis dalam lukisan itu pada ibunya.
*
Aku berjalan kedepan. Tak tentu arah. Mengikuti langkah kakiku. Kemanapun kaki ini melangkah itulah tujuanku.
Siapakah dirimu? Kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa kau menemuiku disaat seperti ini? Apa maksudmu? Adakah yang hendak kau sampaikan padaku? Tapi, apa? Apakah kau melihat aku disana? ribuan pertanyaan muncul di kepalaku. Menjadi sakit dibuatnya.
Hingga langkahku terhenti di tepian pantai nan panjang.
“ ARRGGHHHHH………. !!!!” aku berteriak sekencang-kencangnya. Tak ku pedulikan lidah-lidah ombak menjilat kakiku yang telanjang. Aku berharap dengan cara inilah kau bisa melihatku disini. Melihatku yang gila karena bayanganmu semalam.
 “TUHAN, ENGKAU YANG MAHA TAHU ATAS SEGALA DI DUNIA INI. ATAS SEGALA YANG TAMPAK DAN YANG GAIB. JIKA GADIS ITU SEKARANG TELAH BERSAMA-MU AKU HARAP KAU JAGA DIA SAYANGILAH IA, YA TUHAN. KARENA AKU SANGAT MENCINTAINYA” hanya itu yang dapat ku kirimkan padamu.  
Hingga di bawah rindangnya Cemara Pantai aku terlelap hanyut dan tenggelam bersama dengan semua impian indah yang ku harapkan bersamamu. Dalam lembut bayang ilusimu. Putri Cempaka-ku.
Bengkulu, 28 Agustus 2011
Erva .D Aryanti
15.05 wib
Glosarium
-          Tobo: Mereka
-          Sapo: Siapa
-          Nyo: Nya/Ia/Dia
-          Dewek: Sendiri


DIIKUTSERTAKAN DALAM SAYEMBARA MENULIS CERPEN REMAJA BALAI BAHASA BENGKULU 2011

You Might Also Like

0 komentar