Swift

SAKIT CLEOPATRA

11 Agustus 2012
Aku ingin menceritakan sesuatu kepada kau, sesuatu tentang kisah remajaku. Kisah yang setidaknya sudah biasa kamu dengar. Kisah apalagi kalau bukan tentang cinta. Tentang kasmaran.
Dan sekali lagi, mungkin ini hanya salah satu dari sekian banyak kisah cinta serupa tak ada bedanya. Namun, menurutku kisah ini istimewa hingga rasanya aku ingin menceritakannya pada siapapun yang sudi atau tidak untuk mendengarkan kisah ini. Aku ingin menceritakannya pada rintik hujan, sinar cerah mentari, tujuh warna pelangi, lengkungan bulan sabit, ribuan bintang, arak-arakan awan, langit biru, rumput, batu bata, asap knalpot, korek, telepon seluler, laptop, buku-buku lagu, dan gitarku. Aku juga ingin bercerita pada semut-semut merah di sudut kamarku, nyamuk-nyamuk nakal yang panik karena diburu cicak, Meow, kucingku yang mengendap-endap mencari tikus jahil di dapur atau katak hijau dalam tempurung di kolam belakang rumahku. Sebab, kali ini aku baru saja menyukai seorang wanita setelah lima belas tahun aku hidup di dunia.
Sebelumnya akan kuperkenalkan diriku. Panggil saja aku Iben, biar kita tidak terlalu kaku. Bukannya aku tidak mau memakai nama panjangku, hanya saja mungkin kau akan merasa aneh jika mendengar namaku yang persis dengan nama cairan kimia yang biasa digunakan untuk menguji kandungan glukosa pereduksi dalam bahan makanan. Seperti jenis monosakarida dan beberapa disakarida yang dapat teridentifikasi karena menghasilkan warna merah bata.
Aku terlahir dengan darah Tanah Toba, yang sangat kental. Dapat dilihat dari marga keluarga yang wajib aku sandang di belakang namaku. Teman-temanku biasa memanggil Iben Manurung. Nah, itu dia nama margaku.  Manurung.
Menurut dari cerita Opungku, Manurung adalah salah satu marga tertua, dan merupakan generasi keenam Raja Batak. Manurung juga merupakan salah satu marga terbesar di antara sekitar empat ratusan marga Batak. Di Tapanuli, daerah asalku, marga ini memiliki jaringan yang lumayan luas, terbentang dari Parapat sampai Porsea, ini mencakup hampir setengah luas wilayah Kabupaten Toba Samosir. Orang-orang dengan marga Manurung adalah orang-orang yang cinta damai, rata-rata kaum prianya berperangai tenang, kuat pengendalian diri dan lebih suka menyelesaikan perselisihan dengan berunding. Mungkin, karena karakter seperti inilah, sedikit sekali marga Manurung yang menjadi anggota TNI, Polri atau preman.
Aku mencintai semua tentang musik. Aku sangat tidak menyukai hal-hal yang bernuansa politik, hitung-hitungan, dan hapalan, apapun itu bentuknya, juga aku adalah anak yang paling malas untuk membuka buku pelajaran.
Ada ungkapan klise berkata “Music is my soul” inilah ungkapan klise yang telah menjadi motto hidupku. Kalau kau bertanya padaku tentang bagaimana mengaransemen lagu, teknik vokal dan cara bermain gitar, tentang lagu-lagu lawas sampai yang lagi booming saat ini di dalam negeri maupun mancanegara dengan senang hati aku akan menjawabnya, karena semua hal itu telah berada diluar kepalaku. Namun, kau jangan berharap aku akan menjawab soal-soal aljabar, logaritma, persamaan atau pertidaksamaan kuadrat, tentang konfigurasi elektron, interaksi sosial, tata surya, macam-macam pengadilan, virus-virus dan bakteri di sekitar kita, oh! Sudah kubilang dari tadi kalau aku membencinya.
  Oh, iya, hampir saja aku lupa memperkenalkan statusku. Aku masih berstatus sebagai pelajar SMA, dua bulan lalu aku berhasil diterima di sekolah nomor satu di kota ini. Aku tak menyangka awalnya―melihat kebiasaan jelekku tadi. Mungkin, kau juga tidak menyangka, kan?  namun, aku sangat bersyukur dan bangga karena dapat menjadi bagian dari sekolah ini. Dan … kisah itu berawal dari sini.
Masa orientasi siswa atau yang biasa disingkat MOS meninggalkan begitu banyak cerita “gado-gado” dalam diriku. Bukan karena aku selalu makan gado-gado di kantin, ya. Aku sebut gado-gado karena segala macam rasa berkumpul di sini. Bukan juga, lima macam rasa yang dapat dirasa oleh lidah―manis, asin, asam, pahit, dan umami. Tetapi, rasa yang dapat dirasakan oleh hati. Bicara soal hati, tak akan pernah lepas dari masalah cinta dan benci. Keduanya ibarat hujan dan pelangi selalu datang berdampingan, hujan ibarat benci yang kedatangannya terkadang membuat sebagian orang menggerutu karena dinginnya yang amat menusuk tulang rusuk sedangkan pelangi dengan warnanya memberi lengkungan senyuman pada diri yang bersedih. Betapa benci dan cinta tak dapat dipisahkan.
Mungkin ini pula yang menyebabkan aku menyukai dirinya. Walaupun tak sedikit teman-temanku yang membencinya. Mereka menganggap dia sok tegas—terkesan galak, padahal menurutku dia adalah anak yang memang tegas, disiplin, pandai berbicara di depan umum dan mempunyai keyakinan yang kuat bahwa ia merasa dirinya sama dengan yang lain. Ya, berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dari diriku.
“Yakin, lo, mau ngasih surat pink ini sama kak Cleo?” Tanya Tian, teman sebangkuku saat aku menuliskan nama Cleopatra Aulia di sudut kiri atas amplop surat bewarna pink itu.
“Yakin, kenapa emang?”
“Kalo gue? ampuun, banget!” katanya sembari berkata dengan wajah yang menurutku ‘enggak banget’
“Lo, kok gitu, sih?” aku mencoba berbicara santai “Kak Cleo baik, kok. Gue suka disiplinnya.”
Bernama Cleopatra Aulia. Kakak kelasku ini memang mirip sekali dengan Cleopatra sang ratu mesir. Soal kecantikan dia memang tak diragukan lagi. Kecantikan Cleopatra ada di dalam bukan pada tampilan luarnya. Otaknya tajam. Kharisma dan ambisinya kuat. Kebijaksanaannya mengagumkan. Ia berpendidikan tinggi, dan memiliki keagungan luar biasa sejak dini. Inilah yang membuat Julius Caesar dan Markus Antonius sang yang berkuasa saat itu  jatuh cinta akannya. Sama seperti kak Cleo, yang berhasil membuatku menjadi pemujanya.
***
12 Agustus 2012
Pukul 04:30
Di kamarku, 2 jam sebelum MOS hari kedua.
Alarm hape-ku berdering. Kulihat layarnya, “Astaga!”
Sumpah, aku panik setengah hidup –setengah mati, deng.—bagaimana bisa aku tertidur dengan satu tugas yang aku belum selesaikan pikirku saat itu. Jadilah, aku menghampiri meja belajar, meraih kertas dan mulai menulis, walaupun saat itu aku hanya melamun menatap kertas putih itu dan tangan memegang pulpen. Erat!
Asal kau tahu saja, aku bukanlah seorang penyair yang dengan gampangnya menuang isi hati dan pikiran ke dalam bentuk tulisan berupa syair, aku juga bukan pujangga yang dengan mudahnya dapat merayu sang bidadari pujaan untuk dengan rayuan-rayuan bermajas itu. Lebih parahnya, inilah kali pertama aku menuliskan surat dengan tinta merah jambu dan akan dilipat ke dalam amplop bewarna serupa. Ya, surat cinta. Surat untuk kakak kelas yang disukai.
Sebenarnya aku juga diberikan tugas untuk membuat surat benci bagi kakak kelas. Tapi, aku rasa surah beramplop hitam itu tak usah aku ceritakan. “Apa yang mau ditulis?!” kataku dilanjutkan dengan drama membanting pulpen di meja dan meremas kertas itu menjadi bola, lalu aku lempar ke manapun aku suka. Aku sebut drama karena hal seperti ini sebelumnya hanya aku temukan di sinetron-sinetron ABG ‘labil’. Tak ku sangka, hari itu kejadian ini terjadi, hahaha …
Kuulangi sekali lagi episode mengambil kertas dan memegang pulpen. Namun, lagi-lagi drama itu terjadi. Entah, sudah berapa banyak kertas yang aku buang, aku tak sempat menghitungnya.
 “Tuhan, bantulah aku …” kataku lirih. “Oke, konsentrasi, Ben. Kamu bisa!” kali ini aku mencoba menyemangati diri. Semoga saja berhasil.
Tanganku terus dan terus menulis, seluruh saraf di otakku dikerahkan. Mencoba membuat kalimat-kalimat yang indah bagi sang kakak.
Kamu membuka pikiranku untuk selalu memikirkanmu
Menyapamu dalam tidur
Menyebut namamu dalam gelap
Melamunkanmu …
  Terus … terus … tanganku mulai tak henti menulis, sedikit demi sedikit selembar kertas putih itu benoda dengan tinta merah jambu yang aku torehkan padanya.
Sebenarnya, aku tak ingin pikiranku terbuka oleh bayang wajahmu
Aku ingin menyapamu dengan menatap mata kristal itu
Aku ingin menyebut namamu dengan terangnya mentari
Takkah kau tahu, bahwa rasa ini mematikanku?
Menjerumuskanku dalam ruang yang tak terjamah cahaya
Lebih semangat. Dan …
Ah! Aku memujamu, kakak …
Done! Semoga kak Cleo suka.”
***
Apa susahnya mengatakan cinta? Tinggal bilang “aku mencintaimu” atau “aku menyukaimu” ataupun kalimat sejenisnya. Mudah memang. Tapi, cobalah kamu berkata sambil menatap objek yang benar-benar kamu cinta, aku bisa menjamin bahwa kamu akan diam, berlidah kaku, berotak buntu. Dan sang objek akan membaca bahwa kamu adalah manusia yang sama sekali bodoh. Ups! maaf, ini hanya berlaku bagi kamu yang mempunyai cinta yang tulus, bukan pengobral cinta.
Seminggu sudah masa orientasi siswa berakhir. Seminggu itu pula kami lost contact tak ada kabar dari dirinya. Setiap aku mengirim pesan tak pernah ada jawaban, aku tidak berani untuk menelponnya. Entah mengapa. Aku tak mengerti. Sekarang dia seakan menghilang. Jauh.
Namun, sebenarnya dia tidak benar-benar menghilang. Aku masih bisa melihat mata beningnya di sekolah. Jujur saja, aku senang mengintipnya yang sedang makan di kantin dari jendela, untung saja kelasku berada tidak jauh dari kantin. Setiap aku melihatnya aku sering senyum-senyum sendiri, kadang-kadang juga mengucapkan kata-kata puitis tanpa aku sadari. Teman sekelas yang melihat hanya tertawa cekikikan sambil sedikit mengumpatku, mungkin, mereka mengataiku gila. Namun, bagiku melihat senyum dan tawanya yang hangat adalah sesuatu yang sangat indah dan berharga, kalau bahasa Syahrini, senyumnya itu, “Cetar membahana, badai!” Hanya saja, dia menjauhiku
“Whaksss?! Enggak salah, lo?”
“Salah? Apa salahnya suka sama kakak kelas?”
“Enggak ada salahnya, sih. Tapi, lo ini cowok. Sadar woii! Sadar!”
“Gue yang jatuh cinta, kok, lo yang sewot?Raffi Ahmad dan Yuni Shara aja beda usianya 14 tahun, Tom Cruise dan Katie Holmes beda usianya 16 tahun, bahkan yang paling parah Catherine Zeta Jones dan Michael Douglas yang beda usinya nyampe 25 tahun. Nah, gue sama kak Cleo Cuma beda berapa bulan doang, kok.”
“Wajarlah, kak Cleo enggak mau bales sms lo. Dia sadar kalo lo itu adik kelasnya, dan sms dari lo itu basi banget. Udah, deh, Sob. Mending lo cari cewek sepantaran atau dibawah kita umurnya.”
Tiba-tiba, sekelebat percakapan di suatu senja bersama seorang sahabat kembali melesat dibenak dan mempengaruhi focus pikiranku. Kembali aku dilanda kegalauan yang bukan kepalang. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, semuanya serba tak enak. Bete. “Ya Tuhan, apa aku benar-benar mencintai dia, sekarang?”
Yah, mungkin, apa yang dikatakan sahabatku itu benar. Lagian, kak Cleo juga sudah kelas tiga, tahun ini dia akan mengikuti ujian nasional, sementara aku masih kelas satu. Apakah aku siap jika nanti aku berpisah dengannya? Apakah aku bisa jadi yang terbaik buat dia? Apakah … apakah …? Ah! Aku pusing.
Dan aku putuskan, mulai saat ini tidak akan menghubunginya lagi.
***
30 Agustus 2012
 “Ben, kenapa kamu enggak ngubungin kakak lagi? Kakak kangen pesanmu, Ben.”
Ya, di ruangan ini. Ruangan putih, lembab, dan beraroma obat, sesosok gadis terbaring diatas tempat tidurnya, bersama handphone mungil di samping kanannya. Sayup-sayup terdengar percakapan dari luar kamar, “Tumor Oligodendrogliomas yang ananda Cleopatra derita sudah semakin parah. Tumor ini mulai menyebar ke seluruh jaringan di otaknya. Seperti yang pernah kami katakan bahwa ananda Cleopatra menderita oligodendroglioma jenis anaplastik, yang tumbuh jauh lebih cepat dan tidak memiliki bentuk yang jelas karena hal inilah kami sangat sulit untuk mengambil tindakan operasi yang keempat kalinya,”
“Saya mohon, Dok. Bantulah kami, tolonglah anak saya,”
“Maaf, Pak. oligodendroglioma anaplastic jauh lebih kuat dari alat-alat kedokteran di sini. Berdasarkan ilmu kedokteran, hanya tiga persen dari seluluh tumor otak teridentifikasi berjenis ini. Dapat disimpulkan bahwa ini merupakan penyakit langka. Daya tahan tubuh Cleo juga semakin lama semakin menurun,”
Isak tangis mulai membuncah di luar sana. Sementara di ruangan ini, ia meringis kesakitan sambil memengang kepalanya, menjambak rambutnya dengan kuat. Tumor ini telah melahap semuanya, pendengaran, suara, ingatan, semangat belajar, disiplin, konsisten dan keyakinan diri, senyum yang selalu Iben rindukan, mata kristalnya, segalanya. Termasuk mimpi masa depannya.

“Ben, kakak tunggu kamu di surga.” Lalu ia tertidur untuk selamanya.

NASKAH Juara I Lomba Menulis Cerpen Kegiatan Bulan Bahasa dan Sastra UNIVERSITAS BENGKULU 2012

You Might Also Like

0 komentar