Swift

Arti Kehidupan


Lee itulah nama panggilanku. Aku adalah gadis yang baru berusia 23 tahun. Sebulan yang lalu aku baru saja menyelesaikan belajarku di Negeri Sakura, Jepang. Sebelumnya aku telah mempunyai rencana besar, jika aku lulus dari kuliahku di Jepang, aku akan pulang ke daerah asalku, tempat dimana aku dilahirkan dan dibesarkan kedua orang tuaku.
Bengkulu ialah kota di daerah pesisir sebelah Selatan Pulau Sumetera. Bengkulu menurutku adalah kota yang member pengalaman serta semangat yang besar kepadaku. Aku bisa bersekolah ke Jepang ini berawal dari Kota ini.
Aku bercita-cita, akan membuat Bengkulu ini dikenal masyarakat Dunia, dan menjadi buah bibir masyarakat dunia dengan keindahan dan keunikan daerahnya. Menurutku Bengkulu mempunyai segudang potensi yang besar untuk  dapat dikenal di Kanca Internasional.
Setelah aku mengambil ijazah terakhirku, akupun langsung bersiap-siap pulag ke daerah asalku, kota yang telah aku tinggalkan sejak 5 tahun lalu untuk mengecap pendidikan di Negeri orang. Aku sebenarnya tidak berharap banyak keluargaku akan menyambutku, apalagi saat pesawat yang aku tumpangi transit di Jakarta selama 4 jam.
 Ternyata harapanku salah besar, ternyata kedua orangtuaku telah menungguku di Lobby Bandara Fatmawati-Soekarno sejak tadi. Mereka berdua menyambutku dengan isak tangis keharuan.
Aku yang baru saja menginjakan kaki di Bengkulu pun langsung diajak untuk mengelilingi Kota Bengkulu ini. Saat itu yang aku lihat hanya banyaknya perbedaan yang telah terjadi di kota ini sesaat sebelum aku pergi ke Jepang dan sepulangnya aku dari Jepang. Penataan Kota yang sekarang sudah jauh lebih baik terlihat dari sebelumnya.
Akupun diajak berkeliling di daerah sekitar Pantai Panjang. Pantainya yang sangat indah dengan hamparan pasir putih yang luas, deburan ombak yang menggulung dan kemudian pecah diantara bebatuan, birunya air laut yang terlihat sejauh mata memandang. Meembuat lelah yang aku rasakan selama di perjalanan pun hilang seketika. Semua yang aku rasakan sebelumnya kini telah berubah menjadi yang tenang, sepertinya aku ingin berlama-lama ditempat ini. Ditambah lagi dengan menikmati manisnya air kelapa yang dijajahkan pedagang-pedagang kecil sekitar Pantai .
Baru seminggu aku berada di Bengkulu. Akupun mulai merasakan ada yang aneh dengan diriku. Aku yang selama ini dikenal selalu semangat dan ceria, tiba-tiba harus berbaring di tempat tidurku. Malam itu aku merasakan sakit yang sangat didadaku akupun tidak henti-hentinya batuk-batuk dan ternyata tanpa ku sadari batuk ini mengeluarkan darah segar dari dalam tenggorokan ku. Aku yang saat itu terbaring lemah langsung dibawa ke Rumah Sakit untuk mendapatkan pertolongan, tetapi ternyata fasilitas di Rumah Sakit ini tidak cukup memadai untuk menanganiku maka dokter pun langsung merujuk ku untuk pergi ke Rumah Sakit Umum yang fasilitasnya lebih memadai.
Sesampainya aku di Rumah Sakit, aku pun langsung diperiksa oleh dokter. Dan tidak lama setelah itu dokterpun langsung memvonis penyakit yang aku derita. Ternyata dokter mengatakan bahwa aku mengidap penyakit TBC. Padahal selama ini aku belum pernah merasakan adanya penyakit semacam ini dalam tubuhku. Dokter pun menganjurkan untuk aku menjalani rawat inap lebih lama untuk terus dikontrol oleh dokter, selain itu aku juga dianjurkan untuk menjalani pengobatan alternatif.
Seorang kerabat dekat ayahku yang baru pulang dari Kampungnya di daerah Lebong menyarankan aku untuk berobat ke seorang Kyai di Kampungnya itu. Mendengar saran yang diberikan kerabat dekatnya, kebua orangtua ku pun langsuang membawaku ke Kyai itu.
Setelah 2 jam perjalanan aku pun akhirnya sampai juga di rumah Kyai yang disarankan oleh kerabat ayahku itu. Ternyata aku harus menunggu antrian panjang orang-orang yang juga ingin berobat dengan Kyai itu.  Akhirnya setelah lama menunggu antrian yang sangat panjang , tiba saatnya giliranku untuk berobat, dengan tergopoh-gopoh aku berjalan memasuki ruang praktek Kyai itu. Saat melihatku masuk ke ruang prakteknya denga spontan  Kyai itu langsung berucap “Masya Allah, Mudah-mudahan masih bisa disembuhkan”. 
Kyai itu memulai pengobatannya dengan cara yang tidak biasa dilakukan oleh para dokter-dokter yang menanganiku selama ini. Kyai itu hanya memberikan segelas air putih untuk diminum, Kyai itu juga menganjurkan agar aku semakin mendekatkan diri kepada Allah. Sebelum pulang Kyai itu memberikan sebotol air putih untuk aku minum setiap harinya, dan ia berpesan jika air putih itu telah habis diminum tetapi aku belum menunjukkan tanda-tanda kesembuhan aku pun dianjurkan untuk mememuinya lagi.
Orangtua ku pun langsung membawaku kembali ke Bengkulu dengan harapan agar aku bisa sembuh secepatnya. Bahkan kedua orangtua ku pun turut ikut menjalankan shalat tahajud yang disarankan oleh Kyai itu dan terus berdoa demi kesembuhan ku. Aku melakukan shalat dengan berbaring di tempat tidur.
Setiap malam, saat melakukan shalat tahajud, tak henti-hentinya aku menitikkan air mata. Aku berharap Allah dapat memberikan yang terbaik untukku, karena aku percaya bahwa Allah selalu memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan makhluknya. Jika aku mati aku berharap bisa mati dalam keadaan Khusnul Khotimah dan memohon agar semuanya dapat berjalan dengan baik, dan jika aku ditakdirkan untuk sembuh aku berharap agar Allah tidak menguji kedua orangtuaku dengan kehilangan lebih banyak harta benda hanya untuk pengobatan penyakitku ini.
Hari demi hari, malam demi malam aku lewati. Aku hanya bisa berbaring dan berdoa memohon kesembuhan kepada Allah. Karena aku merasa tidak ada yang dapat menyembuhkan ku lagi selain Allah. Waktu demi waktu aku rasakan seperti tinggal menghitung hari. Air mataku pun sering menitik tanpa sadar mengingat sudah sekian lama aku berbaring bahkan aku sudah bunga ranjang dan jika semakin lama aku sakit semakin lama itu pula aku membebani kedua orangtua kuyang seharusnya telah bersantai-santai menikmati hari tuanyadan memperbanyak amal untuk kemudian hari.
Masih adakah kesempatan untuk aku bisa sembuh dan kembali seperti dahulu? Itulah yang selalu terlintas di kepalaku setiap aku berdoa kepada Allah, jika kesembuhan itu masih akan menjadi milikku dan itu secepatnya akan tewujud, aku berjanji aku akan berbakti dan akan bejuang untuk mewujudkan cita-citaku untuk membangun Kota Bengkulu.
Setiap waktu aku hanya berdoa dan terus berdoa memohon kemurahan Allah agar dapat membebaskanku dari penyakit yang menggrogoti tubuhku saat ini. Entah mengapa bayangan kematian selalu saja datang menghantui ku. Dan selalu membuat diriku merinding memohon agar diberi umur panjang, karena aku masih ingin mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya.
Dua minggu setelah itu kesehatanku berangsur-angsur membaik, aku sudah bisa berdiri walapun belum sempurna. Orang tua ku yang melihat ikut gembira. Meski sudah membaik perasaan pesimis untuk kembali seperti dahulu lagi masih selalu menghantuiku, berulang kali aku masih menangis setelah aku menunaikan shalat malamku.
Sebulan berlalu tanpa terasa, aku sudah bisa merasakan perubahan yang besar dari diriku. Aku sudah bisa berjalan normal. Kini aku telah pulih seperti dulu. Diagnosis dokter pun menyatakan bahwa aku benar-benar sembuh. Akupun mulai mencari pekerjaan yang cocok, karena aku telah memegang ijazah Universitas di Jepang aku berhasil mendapatkan jabatan sebagai Kepala Bidang Penataan Kota di Bengkulu.
Baru setahun aku menduduki jabatan ini, aku pun telah berhasil men jalankan program pembersikan masalah sampah dan penataan lingkungan sekitar Pantai Panjang.  Akupun berhasil menarik wisatawan asing untuk berkunjung ke Bengkulu suatu hal yang telah diharapkan selama beberapa tahun terakhir agar Bengkulu tidak menjadi daerah tertinggal. Wisatawan yang datang pun terus menaruh decak kagum terhadap keindahan Pantai Panjang, mereka pun sekarang telah mengetahui bahwa semua daerah di Indonesia itu indah karena selama ini yang terkenal dan mereka ketahui hanya keindahan Pulau Bali.
Seiring dengan waktu harta orangtua ku yang semula hampir habis untuk membiayai pengobatan ku pun telah kembali. Bahkan aku bisa membawa orangtua ku menunaikan ibadah haji.
Aku pun dapat hidup mandiri karena selain menjadi kepala bidang aku juga menjadi pengusaha dibidang kerajinan tangan daerah. Karena terlalu sibuk dengan dua hal ini akupun menjadi jarang sekali bahkan hampir sudah tidak pernah melaksanakan shalat malam.
Ternyata harta benda yang berlimpah telah melupakanku, aku telah lupa bahwa aku pernah mengalami kejadian yang menyakitkan sebelum aku mencapai kesuksesan sekarang ini. Aku juga telah tuli, aku telah tuli untuk mendengar segala nasehat dan ceramah yang diberikan keluarga bahkan perkataan kedua orangtua ku pun tidak lagi dapat masuk ke dalam otakku. Karena sekarang yang ada dalam diriku hanyalah kesenangan akan harta yang telah aku dapatkan selama ini.
Orangtua ku terlihat sangat sedih melihat keadaanku yang seperti ini sekarang. Mereka pasrah dengan apa yang aku lakukan. Mereka juga sempat mencari Kyai yang telah berhasil mengobati penyakitku, tetapi semua itu sia-sia karena Kyai tersebut telah lama meninggalkan tempat prakteknya dahulu dan idak ada yang tahu dimana ia berada sekarang. Karena kelakuanku yang telah melampaui batas aku pun akhirnya dimutasi dan tidak akan mendapatkan jabatan kembali.
Aku pun akhirnya menjadi seperti kehilangan arah karena aku strees memikirkan semua hal ini, bahkan di Galery kerajinan tangan daerah milikku pengunjung yang datang semakin menyusut dan tidak lama setelah itu Galery kerajinan tangan ini mengalami kebangkrutan.
Aku kembali jatuh sakit, sakit ini terlihat lebih parah dibandingkan dengan sakit yang pernah menyerangku beberapa tahun yang lalu. Bahkan sekarang dokter berani memvonis bahwa umur ku tidak akan lama lagi. Aku pun sangat terpukul mendengarkan perkataan dokter ini. Aku akhirnya sadar bahwa perbuatan yang aku lakukan selama ini salah. Perbuatan ku selama ini merupakan perbuatan dosa besar yang pernah aku lakukan dalam hidupku. Sekarang aku bingung, bagaimana caranya agar dosaku dapat diampuni Allah SWT, dan jika aku telah memohon maaf kepada-Nya apakah Ia akan memaafkanku?, aku merasa doaku tidak akan diterima oleh Allah SWT.
 Aku sangat menyesali perbuatanku, aku juga sempat meminta maaf kepada keluarga dan kedua orangtua ku karena selama ini aku tidak pernah bisa mendengarkan kata-kata dan nasehat mereka.
Untungnya, tidak lama kemudian orangtua ku akhirnya menemukan seseorang Kyai. Kyai tersebut mengatakan bahwa penyakit yang aku derita sekarang dapat sembuh itu tergantung dengan usaha ku sendiri untuk sembuh. Aku juga disuruh minum segelas air putih dan tetap disarankan untuk meningkatkan ibadah fardhu serta kembali melaksanakan shalat tahajud yang selama ini telah lama aku tinggalkan.
Tetapi tetap saja penyembuhan pentakit ini lebih lama dibandingkan dengan penyembuhan sebelumnya. Dua minggu berlalu tanpa ada perubahan dalam diriku, beberapa dokter pun kembali didatangkan untuk penyembuhan penyakitku ini.
Aku menyesal, inilah penyesalan terbesar yang aku rasakan. Nafsu makanku pun hilang bahkan aku dalam sehari bias tidak menyuapkan sesendok nasi kedalam mulutku ini. Setiap hari aku hanya menangis karena yang aku inginkan hanya sedikit maaf dari Allah. Aku tidak ingin mati dengan membawa  banyak dosa. Badanku semakin kurus kering dokter yang merawatku harus memberikan infus agar kesehatanku tidak terus menurun. Karena tidak makan dan terus saja menangis.
Satu bulan berlalu ternyata perubahan belum juga terasa. Kedua orangtua ku pasrah, merekapun semakin giat menjalankan ibadah fardhu dan shalat tahajud. Begitu juga dengan diriku yang telah merasa bosan karena telah menjadi bunga ranjang untuk kedua kalinya.
Tiga bulan pun akhirnya berlalu dengan hari-hari yang begitu gelap diatas tempat tidur. Perubahan besar pun terjadi aku yang selama ini menunaikan shalat dengan berbaring sekarang telah bisa menunaikannya dengan duduk.
Perkembangan yang disambut kebahagiaan oleh orangtua ku membuatku terpacu untuk lebih giat beribadah memohon ampun pada Allah SWT , agar aku dapat sembuh total dan semua dosaku dapat diampuni.
Benar saja itu terjadi, tidak lama setelah itu aku sudah bias berjalan dan shalat berdiri. Dokter juga member kabar bahwa aku telah sembuh total dan kembali seperti sediakala.
Aku akhirnya mengerti arti dari kenhidupan sesungguhnya. Aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatan yang telah aku lakukan dan tidak akan terjerumus ke lubang yang sama untuk kedua kalinya juga. Kini aku tidak pernah lalai dalam menjalankan shalat. Aku pun bersyukur karena Allah telah mengampuni dosaku, memaafkanku, serta memberiku kesempatan untuk berbuat lebih banyak kebaikan.

You Might Also Like

2 komentar